Nyepi Siaran Sebagai Bentuk Gerakan Diet Menonton TV

Kamis, 28 Februari 2019 | 11:18 WITA

Beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Istilah Nyepi siaran atau menghentikan siaran oleh lembaga penyiaran selama satu hari penuh saat pelaksanaan Nyepi oleh umat Hindu di Bali seakan sudah menjadi tradisi unik bagi lembaga penyiaran di Bali.

Bagi masyarakat Bali Nyepi siaran dapat dipandang sebagai gerakan diet atau mengurangi menonton televisi selama satu hari penuh. Diet menonton televisi atau tidak menonton televisi ini sejalan dengan konsep amati lelanguan atau tidak menikmati hiburan, karena televisi menjadi media penyedia hiburan. 

Bagi lembaga penyiaran, Nyepi siaran merupakan bagian dari upaya menghormati kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Bali, walaupun disisi lain lembaga penyiaran juga melakukan efisiensi ketika tidak melakukan siaran selama satu hari penuh.

Ide Nyepi siaran pertama kali muncul pada tahun 2005 yang digagas Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Bali yang saat itu dikomandoi oleh I Dewa Gede Windhu Sancaya. Seruan Nyepi siaran pada tahun 2005 tidak mendapat respon dari lembaga penyiaran di Bali. Lembaga penyiaran kala itu menolak melaksanakan hanya karena alasan terikat kontrak iklan.

Setelah KPID Bali berkoordinasi dengan Kementerian Komunikasi dan Informasi maka pada 2006 lembaga penyiaran teristerial baik radio dan televisi kompak untuk tidak bersiaran saat pelaksanaan Nyepi. Kemudian memasuki tahun 2015, Nyepi Siaran juga dilakukan oleh lembaga penyiaran berlangganan yang ada di Bali.

Nyepi siaran menjadi bagian dari bentuk gerakan diet menonton televisi karena saat Nyepi siaran masyarakat Bali dapat terbebas dari paparan dampak negatif dari siaran televisi. Disebut sebagai bentuk diet karena antara diet menonton siaran televisi pada prinsipnya hampir sama dengan diet makanan.

Diet menonton televisi lebih pada mengurangi serta memilah acara televisi agar sesuai dengan kebutuhan otak. Pada sisi lain, kegiatan menonton televisi juga telah menggantikan kegiatan aktivitas fisik lainnya yang menyebabkan tubuh kurang bergerak.

Sahai Devina, Kaur Bhagyapreet dan Verma R.K dalam sebuah artikel berjudul “Impact of Excessive Watching Television on Health and Nutritional Status among Suburban Children” yang dipublikasikan dalam Research Journal of Family, Community and Consumer Sciences, Volume 2 nomor 9 tahun 2014 menyebutkan jika kebiasaan menonton televisi berlebihan di kalangan anak-anak berkaitan dengan dampak negatif pada perkembangan otak anak usia dini dan kesehatan fisik seumur hidup. Dimana paparan berulang dari televisi dapat memengaruhi perkembangan mental dan emosional anak.

Redatin Parwadi dalam sebuah penelitian berjudul “Pengaruh Penggunaan Media Televisi Terhadap Penyimpangan Nilai dan Perilaku Remaja (Kekerasan, Seks, dan Konsumtif) di Kota Yogyakarta” yang dipublikasikan dalam Jurnal Sosiohumaniora, Volume 7, No. 1 tahun 2005 menemukan bukti bahwa televisi memberikan kontribusi atau pengaruh terhadap penyimpangan nilai dan perilaku.

Berdasarkan content specific menunjukkan bahwa responden yang sering menonton tayangan kekerasan cenderung ber perilaku agresif. Mereka yang sering menonton tayangan yang berisi adegan seks cenderung berperilaku seks menyimpang serta responden yang sering menonton tayangan iklan cenderung konsumtif.

Beberapa penelitian justru juga menemukan bahwa diet televisi berkaitan erat dengan diet makan, menyusul adanya kebiasaan ngemil saat menonton televisi.

Maria Thomson dan kawan-kawan dalam artikel berjudul “The Association of Television Viewing With Snacking Behavior and Body Weight of Young Adults” yang dipublikasikan dalam American Journal of Health Promotion, volume 22, No. 5 tahun 2008 menuliskan jika terdapat peningkatan frekuensi ngemil saat frekuensi waktu menonton televisi yang lebih banyak.

Cemilan yang dikonsumsi cenderung adalah makanan ringan padat energi. Colin D dan kawan-kawan dalam artikel berjudul “Watching TV and Food Intake: The Role of Content” yang diterbitkan di Plos One Volume 9, nomor 7 tahun 2014 menuliskan bahwa program TV yang membosankan dapat mendorong asupan makanan yang berlebihan.

Jika mengacu pada hasil penelitian dari Maria Thomson dan kawan-kawan, serta Colin D dan kawan-kawan maka Nyepi siaran tidak saja sejalan dengan upaya tidak menikmati hiburan tetapi juga sejalan dengan pengendalian diri untuk tidak makan atau puasa.

Dalam beberapa penelitian lainnya juga ditemukan bahwa menonton televisi berkaitan dengan kejadian obesitas. Rebecca Boulos dalam artikelnya berjudul “ObesiTV: How television is influencing the obesity epidemic” yang dipublikasikan dalam  Physiology & Behavior, Volume 107  tahun 2012 menyatakan kebiasaan menonton televisi memiliki pengaruh signifikan terhadap epidemi obesitas.

Peningkatan frekuensi menonton televisi memiliki kecenderungan menyebabkan peningkatan asupan kalori melalui makanan saat sambil nonton dan diikuti dengan penurunan pengeluaran kalori.

Harus diakui bahwa industri penyiaran dalam beberapa program siaran mempromosikan gaya hidup sehat, namun pada sisi lain gagal melindungi penonton atau konsumen dari iklan yang menawarkan produk makanan rendah gizi.

Nayab Khan dalam artikel berjudul “Effects of Media (Television) on Mental Health” yang dipublikasikan dalam FWU Journal of Social Sciences, Volume 8, nomor 1 tahun 2014 menyebutkan jika media lebih banyak memainkan peran negatif dalam skenario saat ini dengan mempromosikan kekerasan, vulgarisme dan kekacauan.

Hal ini kemudian berkaitkan dengan efek buruk pada kesehatan mental dan psikologis audiensnya. Hasil yang hampir sama didapatkan oleh Muhammad Ahsan Bhatti dan Ali Ab Ul Hassan dalam sebuah penelitian yang kemudian ditulis dalam sebuah artikel berjudul “Psychological effects of TV News Violence on youth: A Case Study of the Students of Bahauddin Zakariya University, Multan” dan dipublikasikan dalam Pakistan Journal of Social Sciences volume 34, nomor 1 tahun 2014.

Dalam artikel tersebut dituliskan jika 59% pemirsa terpengaruh secara psikologis oleh tayangan berita kekerasan. Tercatat 76 persen menjadi peka karena paparan berita kekerasan dan juga 71 persen pemirsa merasa takut setelah terpapar berita kekerasan di televisi.

Televisi juga telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan anak di Indonesia. Menurut Ivo Noviana dalam artikel berjudul “Pola Menonton Televisi Pada Anak (Studi Kasus di SDN Johar Baru 1 Jakarta Pusat dan SD Islam Al Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan)” yang dipublikasikan dalam Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial, Volume 12, Nomor 03 tahun 2007, pilihan acara yang ringan, seperti film kartun maupun film action menjadi pilihan anak.

Hal ini menunjukkan masih terbatasnya pilihan tontonan/hiburan bagi anak-anak. Namun pendampingan dari orangtua masih belum terlihat, kecenderungan anak-anak menonton dengan kakak/adik.

Sementara Terapul Tarigan, Nancy Ervani, dan Syamsidah Lubis dalam artikel berjudul “Pola Menonton Televisi dan Pengaruhnya Terhadap Anak” yang dipublikasikan dalam Sari Pediatri, Volume 9, Nomor 1 tahun 2007 menuliskan bahwa menonton televisi mempunyai pengaruh terhadap belajar anak dan pola makan dari anak.

Nyepi selama ini juga identik dengan upaya nyata masyarakat Bali untuk menjaga alam, membersihkan udara dan mengendalikan polusi lingkungan. Poin tersebut tentu berkaitan dengan kegiatan masyarakat Bali melakukan catur brata penyepian atau empat pantangan saat Nyepi yaitu amati geni (tidak menyalakan api), amati karya (tidak melakukan aktivitas), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak menikmati hiburan).

Bila kemudian dipandang dari sisi penyiaran maka penghentian siaran saat Nyepi atau Nyepi siaran menjadi satu langkah untuk mengurangi paparan televisi atau diet siaran televisi. Apabila kemudian ditinjau dari segi arti kata Nyepi yang berasal dari kata sepi atau sipeng yang berarti kesepian, sunyi, nol, kosong maka dapat diartikan bahwa Nyepi siaran sebagai upaya untuk mengosongkan atau membersihkan pikiran dari dampak negatif siaran televisi.

Sedangkan jika kemudian dipandang Nyepi sebagai kesempatan untuk mulat sarira (introspeksi diri) maka Nyepi siaran dapat menjadi kesempatan masyarakat atau pemirsa televisi untuk mengevaluasi kembali atau memilih program siaran yang bermanfaat.

Termasuk melakukan evaluasi kembali durasi waktu menonton televisi agar diet menonton televisi berhasil dilakukan. Sumekar Tanjung dalam artikelnya yang berjudul “Menonton Televisi Secara Cerdas Dan Kritis Melalui Metode Diet TV Sebagai Strategi Media Literacy”yang sebelumnya disampaikan dalam Seminar Nasional dan Gelar Produk 2016 merekomendasikan durasi waktu menonton maksimum dua jam sehari.

Oleh :
I Nengah Muliarta
Penulis buku “Wajah Penyiaran Bali” dan “Remeh Temeh Penyiaran Radio”
Pemred Beritabali.com


Kamis, 28 Februari 2019 | 11:18 WITA


TAGS:



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: