Pengerupukan Jelang Nyepi Sebagai Bentuk Kebersamaan Wujudkan Keharmonisan Alam

Selasa, 05 Maret 2019 | 06:00 WITA

Pengerupukan Jelang Nyepi Sebagai Bentuk Kebersamaan Wujudkan Keharmonisan Alam

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Pengerupukan Jelang pelaksanaan Nyepi oleh umat Hindu di Bali memiliki arti sebagai upaya bersama dalam mewujudkan keharmonisan alam. Mengingat saat pengerupukan umat Hindu Bali melakukan kegiatan "nyomya" atau tindakan agar semua unsur alam termasuk buta kala kembali pada tatananya yang benar.
 

"Pengerupukan itu lebih dekat dengan makna "ngeropok" yaitu secara bersama-sama atau beramai-ramai melakukan upaya pengusiran buta kala" ujar pemerhati budaya Bali Made Nurbawa saat dikonfirmasi pada Selasa (5/3).
 
Pria satu putri ini menegaskan Istilah "pengrupukan" ada bertepatan dengan hari Tawur yaitu sehari sebelum Nyepi.  Istilah "pengrupukan" itu lebih dekat dengan makna pengendalian atau menghalau buta kala yang kemudian muncul tradisi ogoh-ogoh yang menyimbulkan sifat-sifat buruk buta kala.
 
"Yang jelas pengrupukan adalah hari suci. Tidak ada hubungannya dengan membuat kerupuk, juga bukan hari ngoreng kerupuk," tegas Nurbawa.
 
 

Nurbawa mengungkapkan istilah buta kala yang dimaksud dalam pengerupukan adalah sifat alam baik buana agung atau buana alit (diri manusia) pada waktu tertentu. Dimana Nyepi merupakan siklus waktu dalam putaran kalender Caka. Sifat dalam diri manusia yang dipenuhi keserakahan ini kemudian disimbolkan dengan ogoh-ogoh. Dimana ogoh-ogoh cenderung dipersepsikan dengan perawakan besar dengan wajah yang menyeramkan.
 
Nurbawa menambahkan bahwa dalam tradisi di Bali banyak nilai nilai pengetahuan dan kearifan yang dikemas dalam bahasa simbol. Butuh sebuah kearifan dalam mengupasnya dan mengimplementasikan. [bbn/mul]


Selasa, 05 Maret 2019 | 06:00 WITA


TAGS: Pengerupukan Nyepi Makna



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: