Aksi Pemukulan Dalam Sidang DPRD Bali

Akademisi : Anggota Dewan Harusnya Miliki Sikap Baik Sebagai Cermin Wakil Rakyat

Rabu, 15 Mei 2019 | 16:10 WITA

Akademisi : Anggota Dewan Harusnya Miliki Sikap Baik Sebagai Cermin Wakil Rakyat

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Anggota dewan seharusnya memiliki sikap yang baik sebagai cermin wakil rakyat. Menjadi hal yang tidak layak jika anggota dewan berseteru hingga menyebabkan aksi pemukulan dan aksi pemukulan tersebut bukan menjadi bagian dari upaya memperjuangkan kepentingan rakyat.


“Tentu tidak layak jika melibatkan para anggota dewan, bahkan terjadi di area ruang sidang. Nah kenapa itu bisa terjadi?mengapa seseorang berani dan mampu menyerang orang lain, serta melakukan tindakan kekerasan yang terkadang sulit untuk dipahami dalam konteks normal, dalam kajian Psikologi sosial, hal tersebut dapat dikaji dari perspektif perilaku agresif” kata Dosen Psikologi Sosial, Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, David Hizkia Tobing S. Psi., MA saat dikonfirmasi di Denpasar pada Rabu (15/5).

Menurut David yang merupakan Peneliti dalam bidang Psikologi Konflik dan Perdamaian ini, prilaku agresif melakukan aksi pemukulan salah satunya dapat didorong oleh kejadian-kejadian eksternal. Frustasi juga dapat mendorong seseorang menjadi berprilaku agresif.

Pria kelahiran Kepulauan Riau tahun 1983 tersebut mengungkapkan frustasi terjadi sebagai bentuk kegagalan, keputus-asaan, ketidakmampuan menerima dan mengelola respon yang diterima dari lingkungan dan lain sebagainya. Apabila frustrasi meningkat, maka kecenderungan perilaku agresif pun akan meningkat pula.


“Apakah ada hinaan, ejekan, tudingan diantara kedua bela pihak sehingga memunculkan ketersinggungan dan mengakibatkan terjadinya perkelahian tersebut. Atau perilaku tersebut sebenarnya adalah puncak dari kekesalan dan akumulasi salah satu pihak kepada pihak yang lain. Perasaan selalu disalahkan, disudutkan, ditempatkan pada posisi sebagai pihak yang salah,  kalah,  dan tidak berdaya juga dapat memicu munculnya perilaku agresi, sebagai respon dari frustrasi yang selalu individu peroleh dari lingkungannya” papar pria yang memperoleh gelar magister dari Universitas Gajah Mada pada tahun 2010.

David menyampaikan perilaku agresif adalah dalam rangka katarsis (pelepasan ketegangan) terhadap kompleksitas permasalahan dan beban psikologis yang seseorang sedang alami. Sebagian orang yang merasa terdesak, berkeyakinan bahwa rasa marah  akan dapat dikurangi melalui pengungkapan agresi.

Jika dikaitkan dengan kedua belah pihak dari anggota dewan yang terlibat perselisihan tersebut,  tentu salah satu pihak beranggapan,  dengan memukul,  menyerang,  dan atau menyakiti lawannya,  akan dapat membuatnya merasa menjadi lebih baik,  terkait permasalahan dan frustrasi yang selama ini sedang dialaminya. “Pada konteks lain,  katarsis juga dapat dilakukan dengan cara olahraga, menonton konser musik, berteriak di pantai, memukul atau membanting sesuatu, dan juga menangis” ungkap David. [bbn/mul]


Rabu, 15 Mei 2019 | 16:10 WITA


TAGS: Aksi Pemukulan Dewan Bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: