Tradisi Megibung, Wujud Sinkretisme Hindu dan Islam di Kampung Islam Kepaon

Sabtu, 18 Mei 2019 | 09:20 WITA

Tradisi Megibung, Wujud Sinkretisme Hindu dan Islam di Kampung Islam Kepaon

beritabali.com/Jurnal Studi Sosial

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tradisi megibung atau makan bersama dari satu tempat makan yang sama telah menjadi wujud sinkretisme atau konsep pembauran agama yang menciptakan keharmonisan antara Hindu dan Islam di Kampung Islam Kepaon, Denpasar. Aktualisasi tradisi megibung di Kampung Islam Kepaon adalah bentuk upaya mempertahakan kearifan lokal masyarakat Bali dan menciptakan pluralism.

Hal tersebut terungkap dalam artikel ilmiah berjudul “Tradisi Mengibung (Studi Kasus Singkretisme Agama di Kampung Islam Kepaon Bali)” yang dipublikasikan dalam Jurnal Studi Sosial (Gulawentah), Volume 2 Nomor 1 tahun 2017. Artikel tersebut ditulis oleh Riza Wulandari dari STMIK STIKOM Bali.

Riza Wulandari menuliskan bahwa Tradisi megibung di Kampung Islam Kepaon dijalankan dengan penuh toleransi namun masih berpegang teguh pada norma agama. Proses megibung dilaksanakan pada bulan Ramadhan, prosesi di kampung Islam kepaon sama dengan megibung di Karangasem. Hal yang membedakan hanya menu makanan yang disajikan. Kesamaan pemaknaan tradisi megibung antar Hindu dan Islam adalah kebersamaan.

Dituliskan juga bahwa Kampung Islam Kepaon menjalankan tradisi megibung sebagai bentuk aktualisasi keberadaan masyarakat muslim di tengah dominasi masyarakat umat Hindu. Pembauran dua agama dalam satu tradisi ini menciptakan persatuan plurasime agama di Bali.

Sedangkan Nuryahman dari Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali, NTB, NTT dalam artikel berjudul “Masyarakat Islam Di Kampung Kepaon Kota Denpasar Provinsi Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal “Al-Qalam” Volume 21 Nomor 2 tahun 2015 menuliskan bahwa tradisi megibung meskipun itu berasal dari tradisi Hindu, karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam tetap dilaksanakan di kampung Islam Kepaon. Meskipun dilaksanakan ketika selesai membaca Alquran, atau khataman.

Makan bersama dengan beberapa orang dengan satu nampan yang sama diharapkan dapat meningkatkan tali persaudaraan antar umat. Makanan yang tersaji sangat bervariasi, namun semua masih cita rasa masakan khas Bali, berupa base genep (bumbu genap). Seperti masakan ayam base genap, plecing, sambal matah, dan lainnya. Minumannya juga beragam seperti es kolak, es blewah, brongko (minuman khas buka puasa di Kepaon yang terbuat dari tepung kanji, gula, dan santan).

Nuryahman juga menuliskan bahwa interaksi masyarakat kampung Islam Kepaon menggunakan bahasa Bali dalam kesehariannya. Berbeda dengan masyarakat Islam kampung Loloan Kabupaten Jembrana, mereka menggunakan bahasa Melayu yang dipengaruhi oleh bahasa Jawa, Bali, dan Bugis yang memunculkan dialek Loloan.

Nama-nama masyarakat Bali seperti Putu, Made, Kadek, dan Ketut juga dipakai masyarakat Kepaon sebagai julukan. Bedanya, nama-nama khas Bali yang menunjukkan urutan kelahiran dalam keluarga itu tidak diformalkan secara administratif, melainkan hanya sebuah panggilan sehari-hari.

Nuryahman merekomendasikan dalam menghadapi era yang global dan serba modern kehidupan kebersamaan, harmoni dan perdamaian sangat diperlukan. Dalam hal pendidikan suasana di kampong Islam Kepaon kiranya bisa dijadikan laboratorium hidup bagi generasi muda untuk belajar hidup bersama yang penuh toleransi. [bbn/ Gulawentah & Jurnal Al-Qalam/mul]


Sabtu, 18 Mei 2019 | 09:20 WITA


TAGS: Hindu Muslim Megibung Kepaon Denpasar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: