Ajengan Selam Bentuk Penghargaan Umat Hindu Kepada Muslim di Bali

Minggu, 19 Mei 2019 | 06:42 WITA

Ajengan Selam Bentuk Penghargaan Umat Hindu Kepada Muslim di Bali

Beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Gianyar. Ajengan selam merupakan istilah makanan halal yang tidak terkontaminasi makanan lain yang dianggap haram yang dipersiapkan umat Hindu bagi umat Muslim. Ajengan selam menjadi bentuk penghargaan umat Hindu kepada umat Muslim dalam upaya menjaga toleransi dan keberagaman di Bali.

Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Kampung Sindu: Jejak Islam dan Situs Kerukunan di Keramas, Gianyar, Bali” yang dipublikasikan dalam Jurnal Lektur Keagamaan, Volume 16, Nomor. 2, Tahun 2018. Artikel tersebut ditulis oleh I Nyoman Yoga Segara dari Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.

I Nyoman Yoga Segara menuliskan menghidangkan ajengan selam kepada umat Islam adalah cara umat Hindu memberikan penghargaan terhadap nilai yang mereka anut dan yakini. Kata selam merujuk pada kata Islam, dan dari kata selam ini melahirkan istilah nyama selam atau saudara Islam. Umat Islam, terutama yang datang pertama kali ke Bali dan keturunannya dari mana pun berasal akan disebut nyama selam.

Istilah nyama selam antara orang Bali dan Islam juga mengandung sejumlah faktor integratif dalam rangka mewujudkan kerukunan. Sejarah panjang kedatangan orang Islam dari Jawa juga masih melekat kuat dalam ingat kolektif orang Bali sehingga orang Islam meski ia berasal dari luar Jawa, seperti Makassar, Lombok atau daerah lainnya akan selalu disebut nak Jawa atau orang Jawa. Berawal dari nyama selam ini melahirkan idiom lokal bahwa nak Jawa itu adalah tamu yang harus dihormati, sehingga di masyarakat juga dikenal istilah krama atau semeton tamyu.

Implementasi ajengan selam salah satunya dapat ditemui di Desa Keramas, Gianyar. Dimana saat di Puri Keramas terdapat kegiatan besar, seperti piodalan atau acara besar lainnya, umat Hindu dan Islam akan berbaur ngaturang ayah. Pada saat akan nunas ajengan atau waktu makan siang, pihak puri biasanya akan melaksanakan acara megibung atau makan bersama yang dilakukan dengan cara duduk melingkar agak miring menghadapi aneka makanan di tengah lingkaran dalam satu wadah.

Megibung ini adalah tradisi menjaga kebersamaan, seperti juga yang sudah lama dilakukan orang Sasak di Lombok. Untuk menghormati umat Islam, pihak puri akan mempersiapkan secara khusus ajengan selam. Penghargaan orang Hindu kepada orang Islam seperti ini juga dapat ditemukan saat umat Hindu di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli mempersembahkan banten selam di Pura Langgar, yaitu sarana upacara yadnya dengan tidak menggunakan babi sama sekali.[bbn/ Jurnal Lektur Keagamaan/mul]


Minggu, 19 Mei 2019 | 06:42 WITA


TAGS: ajengan selam Toleransi Hindu Muslim Bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: