Pura Langgar, Bukti Akulturasi Hindu dan Islam Pada Masa Lampau

Selasa, 21 Mei 2019 | 06:20 WITA

Pura Langgar, Bukti Akulturasi Hindu dan Islam Pada Masa Lampau

beritabali.com/bunutin.desa.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Bangli. Pura Langgar atau juga dikenal dengan sebutan Pura Dalem Jawa menjadi daya tarik wisata sekaligus sebagai wahana solidaritas antarumat beragama. Pura Langgar terletak di Desa Bunutin, Kabupaten Bangli, merupakan sebuah kompleks tempat ibadah umat Hindu yang di dalamnya juga terdapat tempat ibadah umat Islam berupa bangunan langgar dengan langgam arsitektur tradisional Bali. Keberadaan pura ini mencerminkan adanya proses akulturasi antara kebudayaan Bali (Hindu) dan Islam pada masa lampau.

Demikian terungkap dalam artikel ilmiah berjudul “Pura Langgar Sebagai Daya Tarik Wisata dan Wahana Solidaritas Antaragama” yang sempat dipersentasikan  dalam Seminar Nasional Sains dan Teknologi (Senastek) IV di Bali tahun 2017. Artikel tersebut ditulis oleh Ida Bagus Gde Pujaastawa, A.A.P. Agung Suryawan Wiranatha dan Bambang Dharwiyanto Putro dari Universitas Udayana.

Ida Bagus Gde Pujaastawa dan kawan-kawan menuliskan keberadaan pura ini menjadi unik dan menarik, karena di dalam kompleks pura terdapat sebuah bangunan suci berbentuk persegi empat berukuran 6x6 meter yang menyerupai musholla atau langgar, tempat ibadah umat muslim. Berbeda dengan bentuk arsitektur bangunan tempat suci (pura) di Bali pada umumnya, arsitektur bangunan Pura Langgar menyerupai sebuah langgar berundak dua, berpintu empat, serta atapnya bertingkat dua.

Konon, dua tingkat atap tersebut melambangkan syariat atau hukum yang mengatur tata kehidupan dan peribadatan umat muslim, sedangkan dua undak melambangkan jalan menuju Tuhan. Bangunan yang penuh ukiran di setiap sudutnya ini memiliki pintu di setiap sisinya, yang mencirikan tempat persembahyangan umat Islam.

Pura ini dilengkapi pula dengan beberapa fasilitas seperti tempat berwudhu dan sholat bagi umat Islam, dan toilet. Areal pura dikelilingi oleh telaga yang dihiasi bunga teratai. Di sekitarnya juga terdapat beberapa pura lainnya seperti Pura Penataran Agung Bunutin, Pura Pajenengan, dan Pura Dalem Desa Adat Bunutin.

Disamping sebagai tempat suci umat Hindu, khususnya bagi pihak keluarga besar Puri Agung Bunutin, tidak sedikit pula umat muslim yang mengetahui keberadaan Pura Langgar ini menyempatkan diri untuk berkunjung dan melakukan sholat di tempat suci ini. Dengan demikian, keberadaan Pura Langgar ini juga merupakan representasi relasi harmoni antara dua tradisi yang berbeda (Hindu dan Islam).

Semangat kebersamaan dalam perbedaan juga tercermin dalam jenis sesajen yang dipersembahkan di pura ini. Berbeda dengan persembahan sesajen di pura di Bali pada umumnya, sesajen yang dipersembahkan di Pura Langgar ini pantang menggunakan unsur- unsur yang mengandung babi. Fenomena ini mencerminkan semangat solidaritas dan toleransi umat Hindu terhadap keyakinan umat lain (Islam).

Upacara pujawali atau piodalan di Pura Langgar diselenggarakan setiap 210 hari sekali, tepatnya pada hari Wrespati Umanis Wuku Dungulan. Selain itu, setiap tahun sekali, sebulan menjelang hari Raya Nyepi, tepatnya pada hari Tilem Sasih Kawulu atau bulan mati pada bulan ke delapan menurut perhitungan kalender tradisional Bali (sekitar bulan Februari kalender Masehi) juga diselenggarakan ritual Titi Mamah. Ritual ini mengingatkan akan upacara Idul Qurban, di mana seekor godel bang atau anak sapi berbulu merah disembelih dan bagian kepala, kulit, dan bagian tertentu lainnya dikurbankan sebagai pakelem dengan melarungnya ke dasar kolam. Sementara dagingnya dibagi-bagikan kepada warga.

Sebelum disembelih, godel bang tersebut dituntun mengelilingi pura sebanyak 3 kali putaran. Ritual ini dihadiri oleh keluarga besar Puri Agung Bunutin serta warga masyarakat sekitarnya, termasuk pula umat muslim. [bbn/ Ida Bagus Gde Pujaastawa, dkk/mul]


Selasa, 21 Mei 2019 | 06:20 WITA


TAGS: Pura Langgar Bangli



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: