Hidup Kedua Ni Komang Sariadi

Minggu, 26 Mei 2019 | 09:18 WITA

Hidup Kedua Ni Komang Sariadi

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Perempuan berambut hitam lurus dengan kulit sawo matang itu selalu tersenyum manis dan membawa kehangatan dalam setiap ucapannya. Namun, benar jika orang menyatakan orang paling bahagia adalah orang yang paling banyak memendam luka. Begitupun ia, Ni Komang Sariadi.
 

Kisah hidupnya di masa lalu menyimpan banyak sejarah yang membentuknya hari ini dan akan membuat kita semua merasa tersentuh ketika mengetahuinya. Pengalaman hidupnya dimulai di pedalaman hutan Sulawesi, sebagai bagian dari keluarga transmigran sangatlah sulit.
 
Bahkan ketika ia dan keluarganya kembali ke Bali, kehidupan mereka terasa lebih sulit. Tidak punya tempat tinggal dan pindah kesana kemari, membuatnya tidak merasakan menjadi anak yang dimanja ataupun seorang remaja yang kesehariannya dipenuhi kesenangan. 
 
“Dan alam memang sudah menjadwalkan, Ibu akhirnya menikah dengan laki-laki yang kata orang memelet Ibu," tuturnya di tengah wawancara, dengan pandangan yang tak bisa dijelaskan. 
 
Entah kesedihan atau kemarahan yang terpancar dari matanya ketika mengucapkan itu. Ia menikah dengan laki-laki yang tak ia kenal dengan baik. Lalu ia melanjutkan kisahnya 
 
“Jadi, menikah di usia yang sangat muda, tentu kita tidak siap mental, tidak siap, jasmani rohani tidak siap dan juga finansial tidak siap. Sehingga permasalahan muncul.” 
 
Hal inilah yang ia katakan menyebabkan pernikahan yang baru menginjak usia 2 tahun, membawa Sari yang baru akan berusia 20 tahun bertemu dengan pengalaman tak menyenangkan berikutnya, yakni bercerai. 
 
Perceraian ini memberikannya status baru dalam lingkungan sosial yakni divorced atau janda. Bukan hanya perceraian dan segala pandangan orang tentangnya yang harus ia hadapi bebannya tetapi juga beban merindukan putrinya yang baru ia lahirkan, yang masih harus tetap dirasakannya hingga kini.
 
Kepahitan dan kepedihan bertubi-tubi yang ia alami dan rasakan sejak masa kecilnya membuatnya mendedikasikan hidupnya untuk menjaga anak-anak, utamanya yang memiliki kebutuhan khusus dan membantu mereka serta perempuan dan juga komunitas. Ia mengatakan pernah mencoba untuk bunuh diri berkali-kali dalam masa sulitnya itu dan juga sangat sering pergi ke psikiater. 
 
Namun, kemudian ia berhasil untuk keluar dari situasi yang tidak menyenangkan dan penuh rasa sakit itu dan mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih berguna untuk orang lain berkat semangatnya yang terus-menerus bertambah seiring dengan banyaknya cemooh orang-orang sekitar. 
 
Ini dibuktikan dari sikapnya selaku Ketua Yayasan Sari Hati di tahun 2003, yang kemudian 5 tahun berikutnya disusul dengan berdirnya PKP Women Centre. Kedua yayasan ini berlokasi di dua tempat berbeda, yakni Yayasan Sari Hati berlokasi di Ubud dan PKP Womens Centre berlokasi di Banjar Gentong, Tegalallang. 
 
Yayasan Sari Hati berfokus pada pemberdayaan anak dengan kebutuhan khusus sedangkan PKP fokusnya ialah pada pemberdayaan perempuan. Yang setelah 10 tahun, sudah berubah nama menjadi satu nama yakni KIM (Kasih Inspirasi Mandiri).
 
Keberhasilannya untuk bangkit dari luka dan memulai lembaran kehidupan yang baru itu karena faktor The WAO yang ia terapkan juga dalam yayasan yakni willingness (keinginan), ability (kemampuan), dan oppurtunity (kesempatan). Walau begitu, tetap saja memulai sesuatu, apapun itu, khususnya yang tidak biasa pastinya akan menghadapi banyak tantangan. 
 
Tantangan yang dihadapinya diawal ialah tantangan sebagai seorang yang berstatus janda, orang–orang di lingkungan selalu membicarakan dan merendahkannya hanya karena sebuah status. Ia mengakui pada awalnya ia hanya menangis, menangis, menangis dan menerima semuanya. Namun, kemudian ia memutuskan untuk keluar dari zona nyamannya dan melanjutkan studi. Ia berusaha menghancurkan rantai dari aturan-aturan yang dibuat oleh lingkungannya saat itu walaupun status finansial keluarganya kurang.
 
Ketika ia kuliah inilah ia bertemu dengan banyak perempuan yang memiliki berbagai macam kisah pilu seperti perempuan yang berpisah, perempuan yang mempunyai anak berkebutuhan khusus, perempuan yang hamil tanpa suami, perempuan yang tidak bisa hamil, serta perempuan dengan penyakit seksual. Bertemu dengan perempuan lain yang memiliki kepedihan mendalam di hatinya membuat Sari lebih bertekad lagi untuk menata kehidupan keduanya. 
 
Namun menuliskan kehidupan yang baru tidaklah mudah, ada banyak tantangan yang harus ia atasi. Benar saja, ia dihadapi dengan tantangan yang berat ketika diawal mendirikan yayasan yakni tantangan untuk menggeser paradigma masyarakat mengenai diri dan idenya.
 
Dia menyadari hal ini memerlukan waktu dan proses yang panjang, tapi ia meyakini dengan kekuatan The WAO akan mampu membantunya menghadapi tantangan ini. “It’s possible to see the result,” katanya dengan semangat optimisme yang telah ia miliki sekarang.
 
Dalam menghadapi tantang tersebut ia tidak pernah melupakan identitasnya sebagai seorang manusia yang memiliki Tuhan. Ia juga mengatakan “Because we have been heritage by The Hindu philoshopy, Tat wam asi, we are one. If you would like to be treated nicely so please treat others nicely,” yang dibarengi dengan senyuman manisnya. 
 
Inilah faktor-faktor yang membantunya dalam menaklukkan paradigma masyarakat yang buruk atas dirinya. Sehingga mereka mau mempercayai dan membantunya merintis yayasan dan menjalani kehidupan keduanya. Untuk mengatasi masalah finansial diawal pendirian yayasan, ia menggunakan prinsip 3A, everybody is a teacher, every place is a school, every moment is a lesson. 
 
Ia bertemu dan terhubung dengan banyak orang dengan 3A tersebut, dan hal itulah yang terus membantunya bertemu banyak orang dan menemukan banyak bantuan dalam mendirikan yayasan.
 
Sekarang usahanya untuk memulai dan melukiskan kisah baru di kehidupannya yang kedua ini telah memiliki perkembangan yang baik, dilihat dari perkembangan yayasan yang ia dirikan. Dengan usia yayasan Sari Hati yang kurang lebih telah 15 tahun dan PKP yang usianya 5 tahun perkembangan yang dimiliki kedua yayasan ini sangatlah baik. 
 
Sebagai yayasan yang telah mulai dikenal luas, disamping 3 area utamanya yakni Ubud, Tegallalang serta Payangan, Yayasan KIM ini juga telah dikenal dan membantu teman-teman dari wilayah Denpasar, Canggu, serta Tabanan dan juga Jembrana. 
 
“Jadi, kita sudah didengar secara global dan kita bisa bilang perkembangan kita sangat luar biasa karena kita punya 3 tempat yang bisa dikunjungi oleh siapa saja. Tebongkang, Tegallalang, Payangan, orang bisa datang ke 3 tempat ini kalo mau berkunjung, kalo mau melihat kegiatan,” ungkapnya.
 
Disamping itu, yayasan ini memang sudah telah dikenal hingga ke luar negeri dibuktikan dari undangan kepada yayasan untuk menghadiri konferensi-konferensi internasional, untuk belajar dan berbagi ke beberapa negara seperti ke Swedia, Praha, Belanda, Inggris dan Amerika. Serta, perkembangan yang baik ini juga dapat dilihat dari banyaknya sekolah internasional yang memutuskan untuk bekerja sama dengan yayasan, seperti Green School, Scope, Wood dan juga dengan Anak Unik.
 
Untuk keberlangsungan yayasan, ia berharap banyak masyarakat umum berkenan untuk berkontribusi kepada yayasan dan mendukung kegiatan yayasan. Ada banyak cara yang bisa dilakukan, tidak hanya dengan dukungan dana, tetapi bisa juga dengan tindakan seperti berkunjung ke yayasan, membantu di kebun yang dikelola yayasan, mengunjungi rumah dari anggota yayasan, membantu mengajar dalam kegiatan yayasan. 
 
Saat ditanya mengenai siapa role model-nya, ia menjawab “Setiap orang. Semua orang menginspirasi. Everybody,” ujarnya, seraya menyakinisetiap orang mempunyai energi yang dapat menginspirasi orang lain, tidak peduli apakah orang itu menyenangkan atau tidak, semuanya tetaplah menginspirasi dengan caranya sendiri-sendiri tuturnya mengakhiri wawancara dengan senyuman. (bbn/unud/rob)


Minggu, 26 Mei 2019 | 09:18 WITA


TAGS: Hidup Kedua Kehidupan Yayasan Sari Hati Yayasan KIM



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: