Kampung Kecicang Islam, Jejak Perkembangan Islam di Karangasem

Senin, 27 Mei 2019 | 06:25 WITA

Kampung Kecicang Islam, Jejak Perkembangan Islam di Karangasem

beritabali.com/bali.polri.go.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Karangasem. Sejak Raja Karangasem yaitu Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem berhasil menaklukan Pulau Lombok pada tahun 1692 yang kemudian diikuti kebijakan membawa orang Muslim yang berasal dari Lombok ke Kerajaan Karangasem menjadi cikal bakal masuknya Islam ke Karangasem. Umat muslim tersebut kemudian membentuk perkampungan yang kemudian dikenal dengan Kampung Kecicang Islam.

Demikian terungkap dalam sebuah artikel berjudul “Kampung Kecicang Islam di Desa Bungaya Kangin, Bebandem , Karangasem, Bali  (Latar Belakang Sejarah , Dinamika, dan Potensinya Sebagai Sumber Belajar Sejarah di SMA)” yang dipublikasikan dalam Jurnal Pendidikan Sejarah (Widya Winayata), Volume 8, Nomor 2 tahun 2017. Artikel tersebut ditulis oleh Rahayu Arini, Prof. Nengah Bawa Atmadja M.A, dan Dra Desak Made Oka Purnawati M. Hum dari Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Hukum dan Ilmu Sosial, Universitas Pendidikan Ganesha.

Rahayu Arini dan kawan-kawan menuliskan bahwa Kampung Kecicang Islam didirikan oleh Balok Sakti yang berasal dari Lombok. Balok Sakti tersebut adalah salah satu utusan raja Karangasem yaitu Anak Agung Ketut Anglurah Karangasem yang dibawa dari Lombok. Kemudian Balok Sakti ini ditugaskan untuk menjaga perbatasan yaitu di wilayah Karang Toh pati, tepatnya di perbatasan Kecamatan Bebandem dan Selat.

Tanah Kecicang Islam dahulu merupakan hutan yang dipenuhi dengan pepohonan, dan tidak ada satupun yang berani menempati hutan tersebut. Balok Sakti  mencoba untuk membabat hutan dan membuat pemukiman untuk tempat tinggal.

Dengan adanya pemukiman tersebut datanglah penduduk-penduduk muslim yang berasal dari penduduk asli Karangasem maupun penduduk yang berasal dari Lombok. Asal-usul nama Kampung Kecicang Islam berawal kawasan hutan yang dibabat yang dipenuhi dengan pepohonan kecicang yang dapat digunakan sebagai sambal oleh masyarakat. Dengan alasan tersebutlah kemudian Balok Sakti memberikan nama Kecicang. Kemudian nama Islam dibelakangannya ialah untuk membedakan antara Banjar Dinas Kecicang Islam dengan Banjar Dinas Kecicang Bali.

Hubungan Puri Karangasem dengan Komunitas Muslim Kecicang Islam ini sangat erat. Dilihat dari aktivitas masyarakat Kecicang Islam pada masa kerajaan, sebagai rasa kesetiaannya dengan Puri Karangasem masyarakat turut membantu acara-acara yang dilaksanakan oleh Kerajaan Karangasem.

Selain itu pada saat bulan Ramadhan tiba , sebelum adanya listrik Raja Karangasem memberikan bantuan minyak tanah ke setiap masjid sebanyak tiga jiligen untuk penerangan agar warga Muslim dapat melakukan tadarus Al Qur’an di malam hari. Dahulu keluarga Puri Karangasem seringkali membantu pemugaran masjid dengan menyumbangkan bahan bangunan seperti atap dan mimbar.[bbn/Widya Winayata/mul]


Senin, 27 Mei 2019 | 06:25 WITA


TAGS: Kampung Kecicang Islam Karangasem



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: