Masjid Agung Sudirman, Masjid Yang Mengadopsi Bangunan Wantilan Khas Bali

Sabtu, 01 Juni 2019 | 07:26 WITA

Masjid Agung Sudirman, Masjid Yang Mengadopsi Bangunan Wantilan Khas Bali

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Masjid Agung Sudirman, Denpasar menjadi salah satu masjid yang arsitekturnya mengadopsi bangunan wantilan khas Bali. Masjid yang dibangun tahun 1974 tersebut digagas oleh Drs. Zainuddin, H. Mat Nur,  dan kawan-kawan yang merupakan anggota TNI yang sedang ditugaskan di Kota Denpasar. Pendirian masjid dikarenakan kebutuhan ruang untuk beribadah bagi umat Islam di lingkungan Kodam Udayana yang jumlahnya semakin bertambah dari tahun ke tahun.  


Demikian terungkap dalam sebuah artikel ilmiah berjudul “Strategi Adaptasi Arsitektur Masjid Di Lingkungan Minoritas, Studi Kasus: Masjid-Masjid di Kota Denpasar Dan Kabupaten Badung, Provinsi Bali” yang merupakan bagian dari makalah dalam Seminar Nasional Arsitektur Islam 3 yang digelar di Malang pada 7 November 2013. Artikel ditulis oleh Andika Saputra dari Teknik Arsitektur Universitas Gadjah Mada dan Muhammad Rochis dari Teknik Arsitektur Universitas Warmadewa.

Andika Saputra dan Muhammad Rochis menuliskan bahwa bangunan masjid menggunakan bentuk bangunan wantilah karena adanya kesadaran para pengurus dan jama’ah untuk menghargai arsitektur gaya Bali dengan maksud ingin menunjukkan keberadaannya sebagai umat Islam yang menghargai nilai-nilai lokal. Penerapan bentuk bangunan wantilan pada Masjid Agung Sudirman karena adanya kesamaan filosofis sebagai tempat berkumpul di mana bangunan wantilan dalam tradisi umat Hindu berfungsi sebagai ruang berkumpul bersama dalam kegiatan sosial maupun keagamaan, sedangkan masjid merupakan ruang berkumpul bersama bagi umat Islam dalam berbagai aspek kehidupannya.


Bagian kepala bangunan masjid menerapkan bentuk atap limas tumpang dua untuk memperkuat ciri khas bangunan wantilan Bali. Bahan penutup atap menggunakan genteng dengan ornamen ikut celedu pada bagian ujung bubungannya yang merupakan ornamen khas arsitektur gaya Bali. Guna menunjukkan identitasnya sebagai masjid agar mudah dikenali oleh umat Islam, terkhusus bagi para wisatawan Muslim mengingat lokasi Masjid Agung Sudirman yang berada di pusat Kota Denpasar, maka pada bagian atas atap bangunan masjid menggunakan ornamen lafadz Allah.

Sejak didirikan Masjid Agung Sudirman telah beberapa kali mengalami renovasi yaitu pada tahun 1979 untuk memperbaiki bangunannya yang telah rusak, dan pada tahun 1994 untuk memperluas bangunannya sekaligus merubah keseluruhan bentuk bangunannya atas usulan dari dewan pengurus masjid. Renovasi selesai pada tahun 2000 sehingga menjadi bentuk bangunannya yang sekarang dengan luas bangunan 900 m2.

Pada awal pembangunan hingga sebelum mengalami renovasi pada tahun 1994, Masjid Agung Sudirman berbentuk bangunan joglo dengan dinding tertutup. Digunakannya bentuk joglo karena mayoritas umat Islam di lingkungan masjid merupakan pendatang dari Pulau Jawa sehingga memiliki kedekatan dengan bentuk joglo sekaligus untuk menghadirkan rasa dekat dengan kampung halamannya. Pada renovasi tahun 1994, Masjid Agung Sudirman mengalami perubahan bentuk bangunan dengan menerapkan bentuk wantilan khas Bali.

Strategi adaptasi yang ditempuh selain secara arsitektural melalui penerapan bentuk bangunan wantilan khas Bali, juga diterapkan strategi adaptasi secara non arsitektural yaitu dengan memberikan kebebasan kepada warga non Muslim untuk menggunakan bangunan penunjang yang berada di lingkungan Masjid Agung Sudirman. Hal ini sebagai upaya mengakrabkan hubungan sosial antara umat Islam dengan umat beragama lain sehingga keberadaan Masjid Agung Sudirman dapat diterima secara luas oleh masyarakat. [bbn/ Andika Saputra & Muhammad Rochis/mul]


Sabtu, 01 Juni 2019 | 07:26 WITA


TAGS: Masjid Agung Sudirman Wantilan Bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: