Opini

Mempertanyakan Rencana Pembelian Mobil Alphard Bu Eka

Jumat, 14 Juni 2019 | 08:38 WITA

Mempertanyakan Rencana Pembelian Mobil Alphard Bu Eka

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Rasa miris dan tanda tanya. Mungkin itu yang muncul dari lubuk hati masyarakat Tabanan ketika bupati mereka, Ni Putu Eka Wiryastuti, berencana membeli mobil dinas baru jenis Toyota Alphard dengan harga perkiraan Rp 1,9 miliar.
 
Bisa jadi bukan hanya keluhan dalam hati yang ada. Mungkin saja warga Kabupaten Tabanan akan mengelus dada dan memegang kepala ketika berkendara pada jalan dengan kondisi aspal yang tidak bagus.
 
Harus diakui, kondisi jalanan rusak masih banyak ditemui di wilayah Tabanan. Tidak hanya persoalan jalan rusak, Tabanan saat ini juga mengalami defisit keuangan. Beberapa proyek pembangunan pemerintah harus mengalami rasionalisasi alias dipotong karena minim anggaran.
 
Lantas dengan kondisi seperti itu, dimana urgensi atau pentingnya Bupati Tabanan membeli mobil mewah Toyota Alphard keluaran terbaru? Bukankah beliau akan lengser pada Pilkada serentak 2020 mendatang?
 
Rencana pembelian Toyota Alpard saat ini mendapatkan komentar negatif dari publik di media sosial. Sebagian besar mengaitkan dengan kondisi infrastruktur Tabanan yang dinilai masih jauh dari harapan.
 
Rencana pembelian mobil mewah ini masih sedang proses lelang di Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). Toyota Alphard tergolong kendaraan mewah. Mobil ini menggunakan  mesin 2400 cc 2AZ-FE 4 silinder (tenaga 160 PS, torsi 195 Nm) atau 3000 cc V6 1MZ-FE (tenaga 220 PS, torsi 310 Nm).
 
Pada 2020 Tabanan tidak hanya akan memiliki bupati baru, tapi juga kendaraan dinas yang baru, Toyota Alphard. Tapi entah apa manfaat dan dampaknya mobil dinas baru dan mewah itu bagi masyarakat Tabanan?
 
Mengutip pakar postmodernisme dan sosiolog asal Perancis, Jean Baudrillard, situasi masyarakat kontemporer dibentuk oleh kenyataan bahwa manusia sekarang dikelilingi oleh faktor konsumsi. Manusia tidak akan pernah merasa terpuaskan atas kebutuhan-kebutuhannya. "I shop therefore I am", atau aku berbelanja, maka aku ada.
 
Apa yang dilakukan oleh Pemkab Tabanan masuk akal, jika mengadopsi pandangan Jean Baudrillard. Tabanan harus berbelanja untuk menyatakan dirinya ada. Ukuran berbelanja seorang bupati adalah Toyota Alphard dengan segala ironinya.
 
Gaya hidup hedonisme oleh seorang pemimpin pernah tercatat dalam sejarah. Marie Antoinette atau Madame Deficit di Prancis berakhir tragis dipenggal dengan pisau guillotine.
 
Sejarah tidak akan pernah lupa bagaimana prilaku sang ratu terakhir Prancis itu berfoya-foya hingga menjadi salah satu faktor negaranya defisit. Lantas memicu revolusi Prancis. 
 
Pada 1785, skandal kalung berlian memperburuk reputasi Marie Antoinette. Seorang pencuri yang menyamar sebagai Madame Deficit berhasil mengambil kalung bertahtakan 647 berlian. Meski tidak bersalah atau terlibat, rakyat tetap menganggap Marie Antoinette bertangungjawab pada peristiwa itu.
 
Kritik dari masyarakat terhadap Marie Antoinette malah dibalas dengan membangun sebuah rumah peristirahatan mewah Hameau de la Reine di Versailles pada 1786.
 
Kondisi ini kemudian berpuncak pada 14 Juli 1789 saat 900 buruh dan petani Prancis menyerbu penjara Bastille untuk merampas senjata dan amunisi, sekaligus menandai dimulainya revolusi Prancis.
 
Kembali ke soal rencana pembelian mobil mewah Alphard untuk Bu Eka, mungkin Pemkab Tabanan perlu mengevaluasi ulang rencana pembelian mobil mewah ini. Meski anggaran untuk itu ada dan seorang bupati dinilai memang pantas naik Toyota Alphard, namun rasanya masyarakat Kabupaten Tabanan akan lebih menghargai dan menghormati kepala daerah yang memberi contoh pola hidup sederhana, dan tentu saja kepala daerah yang fokus bekerja untuk kemajuan daerah serta kesejahteraan rakyatnya. [bbn/editorial/psk] 


Jumat, 14 Juni 2019 | 08:38 WITA


TAGS: opini alphard tabanan



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: