Seksologi dr Oka Negara, FIAS

Ingin Operasi Ganti Kelamin, Apa Saja Risikonya?

Minggu, 16 Juni 2019 | 10:00 WITA

Ingin Operasi Ganti Kelamin, Apa Saja Risikonya?

beritabali.com/ilustrasi/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: "Dok, sejak kecil aku merasa berada pada tubuh yang salah. Aku ini perempuan, yang lebih senang melakukan pekerjaan laki-laki dan tidak suka melihat badanku berpayudara besar. Tapi aku masih tertarik dengan laki-laki lho, Dok. Uniknya, aku bertemu dengan laki-laki yang merasa serupa denganku. Dia lebih suka tampil dan melakukan pekerjaan perempuan. Karena serupa, kami jadi jatuh cinta dan berpacaran sejak setahun, serta saling melengkapi. Kami berencana melakukan oprasi ganti kelamin di Thailand sebelum menikah, agar lebih nyaman saja. Yang ingin aku tanya, apa saja risiko dari operasi ganti kelamin, Dok. Terutama di kehidupan seksual kami nantinya.” (Clara, Bandung, 23)
 

Jawab: Ganti kelamin, terutama yang lebih biasa dilakukan oleh laki-laki yang ingin mengubah tampilan kelaminnya menjadi menyerupai perempuan, memang sudah bukan hal yang baru lagi. Tetapi tentu saja, harus melewati konsultasi psikologis yang benar-benar matang sebelumnya.
 
Pada pihak yang mengubah kelamin dari laki-laki menjadi perempuan, secara fisik, perubahan kelamin tersebut sekilas tidak begitu kentara secara visual bila sedang melakukan hubungan seksual, karena memang sengaja didesain layaknya vagina perempuan dan teknologi kedokteran untuk itu memang sudah tersedia. Prinsip operasinya adalah dengan dilakukan pemotongan penis dan diubah dengan pembentukan liang vagina, selanjutnya akan dibentuk dan disuntikkan cairan tertentu supaya bentuk dan kondisinya menyerupai vagina. Prosesnya membutuhkan waktu dan beberapa tahap operasi agar maksimal. Demikian juga untuk mengubah kelamin dari perempuan menjadi kelamin laki-laki, malah membutuhkan keterampilan lebih baik, dan monitoring, serta follow up lebih lama.
 
Tetapi walaupun secara fisik sudah tampak seperti vagina perempuan dan menjadi lebih lengkap merasa menjadi perempuan, atau sebaliknya, tetapi secara psikis memang perlu juga konsultasi psikologis lagi untuk memantapkan kondisi emosionalnya. Fungsi biologis yang akan dijalankan, tidak sebaik fungsi biologis awal, karena dalam prosedur operasi bisa jadi ada pembuluh darah dan saraf sensorik juga yang ikut cidera, sehingga mengurangi fungsi tubuh dan sensasi seksual yang seharusnya bisa didapatkan.
 
Resiko yang sering kali dialami, sering kali memang lebih banyak adalah problema psikis, misalnya adalah rasa takut akan merasa dosa, karena pada sebagian agama atau norma, mengganti kelamin dianggap perbuatan dosa yang dianggap melawan kodrat manusia. Demikian juga pandangan masyarakat yang masih menganggap aneh mereka yang melakukan perubahan kelamin seperti ini. Demikian juga, kenyamanan pasangan juga diperlukan untuk siap menerima memiliki pasangan yang mengubah kelamin, tetapi untungnya dalam hal ini karena yang ingin mengubah kelamin adalah pasangan sendiri dan bersama-sama pula.
 
Sekarang tinggal memahami resiko medis dan bilogis yang bisa terjadi dari tindakan operasi kelamin yang dilakukan. Ada dua kemungkinan lagi yang bisa terjadi, yaitu terhadap fungsi seksual, dan satu lagi terhadap fungsi reproduksinya.
 

Fungsi seksual bisa menjadi berubah dan menurun fungsinya, karena bisa jadi dalam tindakan operasi akan juga mengorbankan serabut saraf dan pembuluh darah kecil yang justru berguna dalam mengoptimalkan fungsi seksual. Pada perubahan dari penis menjadi vagina, kemungkinan lubrikasi seksual tidak terjadi dan merasakan kenikmatan seksual akan mengalami penurunan. Sedangkan perubahan dari vagina ke bentuk penis, tentu saja ereksi penis tidak terjadi, atau tidak bisa dibuat maksimal. Kenikmatan seksual yang didapatkan juga tidak maksimal.
 
Kemudian, fungsi reproduksi yang dikorbankan sudah pasti terjadi. Kehamilan secara alamiah tidak akan terjadi dari proses ganti kelamin, karena tidak terjadi perubahan pada rahim dan indung telur atau ovarium pada perempuan yang berganti kelamin dari vagina menjadi penis, demikian juga testis pada yang semula laki-laki akan dikorbankan dalam proses operasi ganti kelamin, sehingga reproduksi tidak mungkin terjadi. Jadi, silakan dipikirkan kembali upaya untuk melakukan operasi ganti kelaminnya. [bbn/dr.oka negara/psk]


Minggu, 16 Juni 2019 | 10:00 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: