Menggagas Pentas Tari di Bawah Pohon Beringin

Senin, 17 Juni 2019 | 16:05 WITA

Menggagas Pentas Tari di Bawah Pohon Beringin

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Gianyar. Batan Bingin merupakan suatu istilah yang berasal dari Bali. ‘Batan’ berarti di bawah dan ‘Bingin’ berarti pohon beringin. Bagi masyarakat Bali, pohon beringin merupakan pohon yang sangat disakralkan. Karena dalam kegiatan sehari-harinya, masyarakat Bali memanfaatkan pohon beringin. 
 

Misalnya, dalam kegiatan upacara adat Nyekah, masyarakat Bali yang beragama Hindu melaksanakan kegiatan yang bernama ‘Ngangget Don Bingin’ dan juga di Bali, pohon bingin juga diberikan sesajen dan dikenakan saput poleng saking sakralnya. 
 
Namun, I Ketut Gede Bendesa merupakan seorang guru tari yang menggarap sebuah ide baru tentang pohon beringin. Dengan tangan ajaibnya ia berhasil membuat sebuah pangggung kecil-kecilan untuk membuat suatu pentas tari yang dilaksanakan di bawah pohon beringin.
 
Yang selanjutnya disebut sebagai Pentas Tari Batan Bingin. Pentas Tari Batan Bingin sendiri merupakan sebuah pertunjukan seni yang berfokus pada seni tari. Kegiatan Pentas Tari Batan Bingin sendiri dilaksanakan di bawah pohon beringin barat di areal Lapangan Astina Gianyar. Pentas Tari Batan Bingin dilaksanakan pada bulan Juni-Agustus pada minggu kedua dan keempat pada tiap bulan tersebut tiap tahunnya.
 
I Ketut Gede Bendesa merupakan pria asal Serongga Gianyar yang sehari-hari bekerja sebagai pelatih tari di Sanggar Sekar Dewata. Sanggar Sekar Dewata sendiri merupakan sebuah sanggar tari yang berlokasi di Desa Serongga Kecamatan Gianyar Kabupaten Gianyar dan I Ketut Gede Bendesa juga merupakan pendiri dari sanggar ini. 
 
Jadi, dengan bantuan dari beberapa sukarelawan, I Ketut Gede Bendesa dapat mempersiapkan Pentas Tari Batan Bingin dengan matang. Ketika ditanyai, I Ketut Gede Bendesa mengatakan sebenarnya alasan melakukan kegiatan pentas tari ini sederhana, yaitu untuk melatih keterampilan (soft skill) anak-anak di sanggar. 
 
Selain untuk membiasakan diri untuk tampil di hadapan banyak orang, lanjutnya, pentas ini juga dapat melatih kemampuan kemampuan berbicara di depan umum (public speaking) mereka. "Jadi selain mendapat ilmu dalam hal seni, anak-anak di sanggar saya juga mendapat pelajaran tentang soft skill yang sangat penting untuk kedepannya,” ungkapnya. 
 
Hal unik lainnya yang dapat dilihat dari pementasan pertunjukan tari ini adalah I Ketut Gede Bendesa juga mengajak anak-anak disabilitas untuk bergabung menari bersama dalam Pentas Tari Batan Bingin. Ketika ditanya tentang siapa yang menjadi pelatih dari mereka, I Ketut Gede Bendesa menjelaskan bahwa ia sendiri yang menjadi pelatih mereka karena di Sanggar Tari Sekar Dewata juga membuka peluang untuk anak-anak kaum disabilitas untuk berlatih di sanggar. 
 
“Contohnya Pak Tut (red; I Ketut Gede Bendesa), mengajarkan mereka dengan menciptakan beberapa bahasa isyarat untuk anak-anak yang terbatas dalam pendengarannya,” jelasnya ketika ditanyai tentang bagaimana metode yang digunakan untuk melatih anak-anak yang memiliki keterbatasan.
 

I Wayan Sukarmen merupakan salah satu siswa I Ketut Gede Bendesa yang berpartisipasi dalam Pentas Tari Batan Bingin . Menampilkan Tari Gebyar Duduk, I Wayan Sukarmen tampil dengan gemilang terlepas dari keharusannya untuk menampilkan tari dengan menggunakan kursi roda. 
 
Sukarmen mengatakan kesulitan yang dialaminya ketika menari adalah saat bergerak kalau melibatkan kaki. Kendati demikian, hal itu dianggap tidak terlalu mengganggu karena tariannya sendiri sudah dimodifikasi Ketut Bendesa agar lebih mudah ditarikan. 
 
Remaja asal Kintamani Bangli ini memang sudah menunjukkan ketertarikannya dalam bidang seni tari sejak berumur empat tahun. Menurutnya kekurangannya tidak menjadi hambatan untuk menjalankan 'passion'-nya. Dan saat ini Sukarmen sedang mengikuti Pelatnas yang dilakukan di Solo. (bbn/unud/rob)


Senin, 17 Juni 2019 | 16:05 WITA


TAGS: Pentas Tari Beten Bingin Gianyar



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: