Menjadi Guru Kekinian di Era 4.0

Minggu, 23 Juni 2019 | 06:00 WITA

Menjadi Guru Kekinian di Era 4.0

bbn/ilustrasi/grid.id

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. “Atta Halilintar, Raja Youtube Indonesia kini mencatatkan namanya sebagai Raja Youtube ASEAN”, demikian kutipan wacana pada salah satu soal ulangan kelas V SD di Banten. 
 

Wacana dengan topik unik tersebut tentu saja cepat viral (beredar luas) di media sosial hingga media-media mainstream. Ada juga soal ulangan akhir semester siswa SD kelas IV di Kabupaten Badung, Bali yang dalam teks soal/wacananya mengangkat tentang personil girlband Korea, Blackpink. Ini cukup menggelitik siswa yang membacanya.
 
Fenomena soal ulangan yang memunculkan youtuber (pembuat konten media sosial Youtube) dan personil girlband sebagai topik menuai beragam reaksi. Ada yang pro, ada yang kontra, bahkan beberapa menanggapi dengan sarkastik. Bagi kalangan anak-anak hingga remaja yang telah akrab dengan internet dan media, wacana tersebut tidaklah terlalu aneh. Tanggapan kontradiktif justru datang dari para warganet yang sebagian adalah insan pendidik (guru).
 
Bertolak beberapa tahun ke belakang, soal-soal bertipe “aneh” juga pernah muncul di ujian nasional matematika SMA. Soal saat itu menanyakan tentang bagaimana menghitung kadar garam di lautan yang luas. Ada juga soal yang membahas peristiwa seseorang yang melempar dadu ribuan kali, kemudian ditentukan peluang munculnya salah satu mata dadu. Oleh banyak kalangan, soal tersebut dianggap tidak kontekstual (sesuai kehidupan nyata). 
Apa yang sebenarnya terjadi? 
 
Salah satu penyebabnya adalah adanya revolusi industri 4.0. Era 4.0 adalah masa di mana teknologi dan digitalisasi merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan dunia pendidikan. Jika dahulu, teknologi adalah milik orang-orang tertentu, maka kini semua orang butuh teknologi. Dulu, memakai kalkulator di kelas adalah hal yang sangat ditabukan, maka kini siswa wajib menguasai kalkulator. Dulu, internet adalah barang mewah yang hiperbola, kini internet berhenti tiga hari saja rakyat menjadi nelangsa.  
 
Walaupun desakan teknologi sudah memengaruhi dan menyogok bangsa ini dari segala sisi, faktanya indikator-indikator di atas masih menjadi ciri bahwa sebagian besar insan pendidik masih cukup asing bahkan terganggu dengan dekatnya teknologi pada anak didik. 
Menurut Ki Hadjar Dewantara (dalam Dantes, 2017), pendidikan merupakan usaha memanusiakan manusia. Untuk bisa mendidik anak menjadi manusia seutuhnya, guru haruslah memahami dunia anak. Bukan anak yang harus memahami dunia guru. Ini kunci penting dalam membuka pola pikir guru kekinian.
 
Sehingga, bisa diibaratkan salah satu tujuan utama pendidikan adalah mengubah “jendela” menjadi “pintu”. Jika anak memahami jendela dunia, maka dia akan mampu melihat, memahami, dan mengetahui banyak tentang dunia. Namun, jika anak mampu mengubah jendela menjadi pintu, maka anak kelak akan mampu mengubah dunia.
 

Adanya soal-soal ulangan yang membahas teknologi menjadi tanda bahwa sudah ada guru (penyusun soal) yang akrab dengan teknologi dan berani mengejawantahkan teknologi ke dalam pendidikan, berani membuka pintu hati insan-insan pendidik yang masih nyaman di lingkaran kekunoan, serta memberi sinyal bahwa bangsa ini siap menuju abad 21. Hal-hal seperti ini sesungguhnya perlu mendapatkan apresiasi.
 
Ini membutuhkan dukungan yang tidak hanya luas, namun juga sistemik. Para regulator harus mampu merespon fenomena ini dengan bijak sebagai sebuah titik lompatan, di mana para pendidik dimotivasi, selain menguasai 4 kompetensi guru (pedagogik, profesional, sosial, dan kepribadian), juga hendaknya bersahabat dengan teknologi. 
 
Jangan ada bullying di antara pendidik hanya karena keanehan sesaat yang sebenarnya inspiratif. Wright Bersaudara pernah diejek akan khayalannya yang menginginkan manusia bisa terbang. Faktanya, berkat keberanian, tekad, dan kerja cerdasnya mereka berdua menemukan pesawat, hingga manusia bisa terbang menjelajah dunia. Thomas Alva Edison pernah dicemooh oleh guru karena dianggap bodoh, namun nyatanya lampu pijar buatannya masih kita pakai hingga sekarang.
 
Soekarno pernah berkata, “Beri aku 1.000 orang tua, niscaya akan aku cabut Semeru dari akarnya. Berikan aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” Saat ini belum terlambat rasanya insan pendidik agar mulai refleksi dan berbenah. Anak-anak muda yang dididik saat ini (terutama usia sekolah SD dan SMP) merupakan generasi-generasi yang akan menjadi pilot bangsa ini dalam beberapa tahun ke depan. Guru/pendidik tidak boleh apatis dengan teknologi karena suka atau tidak suka, mau atau tidak mau, teknologi telah menjadi kebutuhan. Mari kita menjadi guru di garis depan yang menutup/mengunci erat-erat jendela kekunoan dan membuka lebar-lebar pintu kekinian.
 
Penulis,
 
I P. G. Sutharyana Tubuh Wibawa, S.Pd.
 
Guru SDN 3 Mengwi
Mahasiswa Program Pascasarjana Undiksha


Minggu, 23 Juni 2019 | 06:00 WITA


TAGS: Guru Kekinian 4.0 Opini



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: