Sejarah dan Romantika Desa Ubud (1): Dikenal Mulai Abad 7, Berasal dari Kata "Ubad"

Selasa, 25 Juni 2019 | 08:39 WITA

Sejarah dan Romantika Desa Ubud (1): Dikenal Mulai Abad 7, Berasal dari Kata "Ubad"

beritabali.com/ wikipedia

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Ubud. Ubud adalah sebuah desa yang tidak jauh berbeda dengan desa-desa yang lain di Bali tetapi kalau masyarakat di Bali nasional maupun internasional tentunya banyak sepertinya yang sudah mengetahui, dapat dikatakan Ubud adalah "branding" dan banyak yang ingin tahu ada apa di balik kata "Ubud". 
 
"Saya pribadi akan sedikit membagi cerita dari apa yang saya ketahui dari cerita nenek saya, dari buku-buku sejarah, buku-buku penelitian, maupun dari pengalaman pribadi saya, saya akan menyampaikan ringkas cerita seperti ini," ujar warga asli Ubud Anak Agung Bagus Ari Brahmanta, yang kini menjabat staff ahli bidang Ekonomi dan Pembangunan Kabupaten Gianyar dan mengetahui banyak hal seputar Ubud dan perkembangannya sampai kini.  Cerita tentang Ubud ini disampaikan Agung pada acara Art, Culture, Culinary, Community Gathering Shrida Taste of Ubud, (22/6/2019).
 
Awal kata "Ubud"
 
Pada abad ke 7 telah datang seorang pendeta yang bernama Markendya beserta pengikutnya yang sebenarnya beliau sebelumnya pernah tinggal di Dataran Dieng, Jawa Tengah. Beliau datang ke Bali melalui Sungai Wos. Perjalanan beliau terjadi 2 kali. Perjalanan pertama mengalami kegagalan karena banyak pengikut beliau yang meninggal. Setelah itu, beliau kembali ke Jawa dan melakukan meditasi di Gunung Raung, Jawa Timur. 
 
Selanjutnya beliau berusaha kembali ke Bali dengan pengikutnya dengan melakukan upacara ritual secara berantai di beberapa pura seperti Pura Gunung Lebah Ubud, Pura Pucak Payogan Ubud, Pura Gunung Raung di Taro sampai akhirnya beliau bisa melaksanakan ritual di kaki Gunung Agung yang dikenal dengan nama Besakih saat ini. Dari perjalanan beliau inilah, kata "Ubud" ini disebutkan yang berasal dari kata "Ubad". 
 
Pada saat itu konon ceritanya dalam perjalanan beliau, pengikutnya banyak yang sakit. Namun sesampainya di desa ini banyak yang sembuh setelah melakukan ritual penyucian diri di Sungai Wos Campuhan Ubud, di tempat berpadunya dua aliran sungai yang dinamakan secara spiritual Silukat dan Sudamala. Untuk diketahui dalam prasasti di Bali sebelumnya, baik pra sejarah atau purbakala maupun dalam dinasti Kudungga yang sudah di Bali pada abad ke 4 dan dinasti Warmadewa, tidak disebutkan kata "Ubud".
 
Ubud Pada Abad ke 14
 
Pada abad ke 14 Ubud disebutkan pada saat tampuk pemerintahan kerajaan Dalem Waturenggong, Adipatu pada saat zaman pemerintahan Majapahit, pejabat yang ditempatkan oleh Raja yang beristana di Gegel untuk menguasai wilayah Ubud, dinamakan Gusti Ubud.
 
Masa Kerajaan Mengwi
 
Pada abad ke 16 setelah perubahan pusat pemerintahan dari Gegel dan pusat pemerintahan baru di Semarapura Klungkung, yang tetap dinasti Sri Aji Kepakisan di bawah kekuasaan di Bali, Raja I Dewa Agung Jambe dan di Bali tumbuh kerajaan kecil setelah runtuhnya kerajaan Gegel. Salah satunya adalah kerajaan Mengwi, Ubud, yang menjadi wilayah kerajaan Mengwi dimana wilayahnya sampai ke Pekerisan.
 
Pengaruh Dinasti Sukawati 
 
Dinasti Sukawati tumbuh pada abad 17 setelah salah satu putra beliau dari dinasti Sri Aji Kepakisan di Semarapura Klungkung dalam cerita dapat mengalahkan Ki Balian Batur yang meruntuhkan Kerajaan Mengwi sehingga beberapa wilayah Kerajaan Mengwi berada di bawah kekuasaan Dinasti Sukawati dengan Raja I Dewa Agung Anom Sukawati membawahi wilayah utara Taro, barat Sungai Wos, timur Pekerisan dan selatan Pantai Ketewel. Salah satu putra dari Raja Sukawati ini membangun kerajaan kecil di Desa Peliatan yang membawahi Ubud. Putra-putra dari kerajaan kecil Peliatan ini membangun puri-puri sebagai penguasa wilayah beberapa desa seperi jabatan manca dan punggawa. 
 
Pada abad ke 18 Ubud menjadi kerajaan kecil di bawah pengausa yang bernama Tjokorde Gede Sukawati. Di sinilah nama Ubud mulai popular karena kiprah beliau menundukkan kerajaan kecil di sekitarnya sehingga Ubud bisa ikut serta menundukkan Mengwi bersama kerajaan Badung atas perintah Kerajaan Klungkung sehingga wilayah Ubud menjadi lebih luas pada akhir abad 18 (baca buku The Spell of Power, 1650-1940, Henk Schulte Nordholt, KITLV Press, 1996).
 
Pemerintahan Hindia Belanda
 
Terpecahnya Bali menjadi kerajaan kecil dan saling perang antarkerajaan memudahkan pemerintah kolonial Belanda memasuki Bali. Pertama melalui pelabuhan di Buleleng dikenal dengan Perang Puputan Jagaraga. Kerajaan Buleleng bisa dikuasai. Kedua Perang Kesumba untuk menguasai Klungkung tidak berhasil. Melalui Perang Puputan Badung tahun 1906 Belanda menguasai kerajaan Badung, salah satu kerajaan tangan kanan dari kerajaan Bali berpusat di Klungkung dan pada tahun 1908 kerajaan terbesar di Bali bisa dikuasai oleh Perang Puputan Klungkung. Memasuki era pemerintahan Belanda ini kerajaan di Bali diatur oleh Belanda. Tentunya raja-raja diatur oleh Belanda sehingga pada saat itu Ubud menjadi keponggawaan di bawah kekuasaan Raja Gianyar.
 
Pendidikan Era Belanda
 
Menurut tulisan dalam lontar dari kakek kami, Ubud tidak mau ikut terlibat dalam peperangan karena tentara Belanda memiliki senjata yang sangat lengkap walaupun penguasa di Ubud sudah menghunus keris maju perang membantu kerajaan-kerajaan lain yang berperang. Tetapi kakek saya yang merupakan tangan kanan penguasa Ida Tjokorda Raka Sukawati memilih berjuang melawan Belanda. Melalui diplomasi dikirimlah putra raja Ubud yang paling sulung yang bernama Tjokorde Gede Raka Sukawati disertai paman kami bernama Anak Agung Ngurah Asti pada tahun 1912 untuk mengikuti pendidikan di tanah Jawa. Selepas dari pendidikan beliau pernah menjadi punggawa (seperti camat zaman sekarang ini) pada zaman pemerintahan Belanda dan akhirnya beliau dipilih menjadi anggota Volkrad. Paman kami, Anak Agung Nurah Asti, beliau menjadi pekerja di pemerintahan Sunda Kecil di Buleleng. Pada saat Tjokorde Gede Raka Sukawati menjadi anggota Volkrad di Batavia, beliau bertemu dengan seorang seniman bernama Walter Spies. Beliau membujuk senian ini agar ia tinggal di Ubud dan beliau menempatkan seniman tersebut di Campuhan yang sekarang ada kawasan Hotel Campuhan.
 
Tinggalnya Walter Spies
 
Karena kesibukan Tjokorde Raka Sukawati sebagai anggota Volkrad, beliau tidak bisa mendampingi Walter Spies dan meminta adik-adik beliau untuk mendampingi. Salah satu adik beliau yang paling bungsu bernama Tjokorde Gede Agung Sukawati yang sangat perhatian dengan seniman dan perpaduan budaya. Kedua orang ini telah membangkitkan para seniman di Ubud sehingga kita banyak mengenal karya I Gusti Nyoman Lempad, Ida Bagus Made, pematung Ida Bagus Nyana, pematung Tjokot dan banyak lainnya. Beliau lalu mengornganisir para seniman dalam sebuah organisasi yang bernama "Pita Maha". Kiprah Walter Spies tidak hanya ke para seniman lukisan dan pematung saja tetapi ia juga memberi perhatian pada seniman tari, mengkreasi bebebrapa tarian seperti Tari Kecak, Calon Arang. Gambuh di Batuan dan banyak tarian yang merupakan budaya lokal mendapatkan sentuhan dari Walter Spies.
 
Royale Paris Colonial Festival 1931
 
Peranan kakak beliau sebagai anggota Volkrad di Batavia dan adik beliau bungsu penggerak seniman dan budaya lokal telah membawa Ubud pada festival bergengsi pada tahun 1931 di Eropa. Misi kesenian budaya sampai kuliner telah mengemparkan jagat Eropa pada saat itu. Di sinilah nama Bali, Ubud dikenal secara internasional. [bbn/rls/psk]


Selasa, 25 Juni 2019 | 08:39 WITA


TAGS: sejarah ubud



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: