Memanjakan Wisatawan Milenial di Pulau Dewata

Rabu, 03 Juli 2019 | 16:20 WITA

Memanjakan Wisatawan Milenial di Pulau Dewata

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Bali sebagai destinasi wisata dunia terus melakukan perbaikan, termasuk penyediaan akses internet di era digital untuk memberi pelayanan terbaik bagi wisatawan milenial.  Era digital telah mengubah cara generasi milenial dalam melakukan perjalanan wisata. Guna memanjakan para wisatawan milenial di Pulau Dewata, Pemerintah daerah Bali kini berupaya melengkapi setiap obyek wisata dengan akses internet atau wifi gratis. Penyediaan wifi gratis di obyek wisata ini merupakan bagian dari rencana pemerintah daerah Bali untuk mewujudkan pemenuhan pemerataan akses informasi. Secara keseluruhan pada tahun 2019 ini Pemerintah Provinsi Bali menargetkan  sasaran sebanyak 1.825 akses poin dengan lokasi penempatan di wantilan desa adat, sejumlah 1.371 akses poin, Puskesmas sejumlah 107 akses poin, obyek wisata sejumlah 203 akses poin, SMA/SMK/SLB sejumlah  132  akses poin, publik area sejumlah 12 akses poin. Pemasangan wifi ini dilakukan secara bertahap dan di tahun 2020 dicanangkan telah terpasang  sekitar 4.157 titik di seluruh Bali.


Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistika Provinsi Bali Nyoman Sujaya berharap penyediaan wifi gratis di obyek wisata tidak hanya mempermudah wisatawan milenial saat menikmati liburan di Bali, tetapi juga memberi dampak positif bagi Bali karena wisatawan milenial melalui kegiatan selfie atau swafoto secara tidak langsung juga ikut terlibat mempromosikan Bali. Selain itu, masyarakat desa juga akan lebih mudah dalam mempromosikan keunggulan yang ada di desa tempat tinggalnya.

“Kita harapkan wifi yang kita siapkan di desa-desa, di obyek wisata dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mempromosikan produk-produk unggulan yang ada di desa-desa. Kita harapkan dapat dimanfaatkan secara positif” ungkap Sujaya saat dikonfirmasi di Denpasar pada Rabu (3/7).

Hotel-hotel di Bali kini juga telah mulai memberlakukan sistem online untuk melayani para wisatawan milenial dan mulai mengurangi pemasaran melalui travel agent atau biro perjalanan wisata. Sebagai sebuah contoh hotel di kawasan wisata Ubud kini sebagian besar telah memanfaatkan online travel agent untuk menjaring wisatawan milenial. Padahal sebelumnya pengelola hotel hampir 60 persen mengandalkan offline travel agent. Mengingat saat ini dari 10 orang hampir 8 orang menggunakan gadget dan 7 orang diantaranya aktif dengan gadget-nya. Hal ini salah satunya diakui oleh Wakil Ketua Ubud Hotel Association (UHA) I Wayan Parka.

 

Menurut Parka, harus diakui dengan penerapan sistem online pelayanan dan pemasaran menjadi lebih cepat. Namun disisi lain sistem online menyebabkan hilangnya pelayanan yang mengutamakan kedekatan pribadi. “Pendekatan pribadi yang hilang, karena kalau kita menggunakan travel online kita bicara dengan mesin. Seperti kita melakukan pemesan menggunakan handphone, tapi kita tidak tahu pelayanan dan segala macam, kalau dengan offline travel agent kita bicara dengan manusia. Tapi kalau mau cepat dan efisien harus digital” ujar Parka.

Parka mengungkapkan setiap perubahan sistem pasti ada plus-minusnya. Salah satu keuntungan dengan sitem online di era teknologi digital yaitu pemasaran menjadi lebih cepat dan keuntungan menjadi lebih tinggi. Permasalahannya kemudian adalah ketika wisatawan milenial melakukan pembatalan pemesanan maka hotel tidak mendapatkan garansi, mengingat prilaku wisatawan milenial yang cenderung melakukan perjalanan tanpa ada perencanaan. “Tidak adanya garansi jika wisatawan membatalkan, kalau dulu masih ada travel agent yang menggaransi. Kalau sekarang dibatalkan, terus datanya palsu bisa kehilangan pendapatan kita” kata Parka yang juga merupakan Resort Manager The Sankara, Ubud.

Wisatawan milenial tidak hanya menuntut terpenuhinya akses internet dan pelayanan yang baik selama berwisata tetapi juga sangat membutuhkan lokasi-lokasi yang instagramable (layak dan pantas dibagikan ke media sosial). Apalagi wisatawan milenial cenderung melakukan selfie atau swafoto. Dibalik prilaku swafoto wisatawan milenial ini ternyata memberi keuntungan berupa promosi pariwisata gratis, karena tidak jarang foto yang kemudian disebar melalui media sosial tersebut akan menarik generasi milenial lainnya untuk berkunjung ke tempat yang dipromosikan. Dampak positif promosi gratis dari swafoto wisatawan milenial ini juga dirasakan para pelaku pariwisata yang pada akhirnya mengurangi biaya promosi.

Selfie itu sangat bagus karena dia menjadi daya tarik tersendiri, tanpa perlu kita mengeluarkan biaya lagi untuk melakukan promosi. Biaya promosi jadi murah tidak seperti yang dulu, orang berkeinginan datang itu karena melihat gambarnya bagus” papar Parka

Parka berharap Pemerintah Provinsi Bali dan kabupaten/kota di Bali mulai lebih mengembangkan desa-desa wisata yang ada di Bali. Apalagi desa-desa wisata yang ada di Bali memiliki lokasi-lokasi foto yang instagramable. Kondisi seperti ini akan semakin menarik dan meningkatkan kunjungan wisatawan milenial ke Bali. Namun disisi lain Parka mengingatkan agar Pemerintah Daerah Bali juga mengantisipasi adanya persaingan harga yang tidak sehat hingga mengakibatkan adanya banting harga.

“Persaiangan harga harus diantisipasi, kalau harga bintang 3 harus dijual dua juta atau  tiga juta, karena tidak menutup kemungkinan karena sepi, dia jual dengan 300 ribu itu sebenarnya merusak. Perang harga ini menjadi kompetisi yang tidak sehat, biasanya dilakukan oleh hotel-hotel yang tidak punya posisi branded bagus” jelas Parka.

Era digital telah nyata-nyata membawa pembaharuan di sektor pariwisata. Manfaat teknologi internet dalam bidang pariwisata tidak hanya dirasakan oleh pengelola wisata besar, tetapi juga pengelola wisata tingkat desa, seperti yang diakui oleh Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Tempat Pengelolaan Sampah Reduce Reuse Recycle (KSM-TPS3R)  Darma Winangun Desa Tangkas, I Ketut Darmawan.

TPS3R  Darma Winangun awalnya merupakan kelompok swadaya yang mengelola sampah desa, namun dalam perkembanganya kini telah mampu mengembangkan paket wisata lingkungan dalam bentuk program eco-tour. Melalui program ini wisatawan diajak untuk belajar membuat kompos, membersihkan lingkungan sambil berwisata.

Darmawan mengungkapkan selama ini tamu yang telah menikmati paket berasal dari Jerman, Scotlandia, Cina, Swiss dan Amerika. Dimana untuk satu paket kunjungan para wisatawan harus membayar sekitar 28 dolar untuk paket komplitnya. Sedangkan untuk pemasaran program eco tour selama ini dilakukan dengan melibatkan agen perjalanan dan tidak jarang juga melalui media sosial. Program eco tour juga menjadi dikenal karena wisatawan yang mengikuti program ini cenderung melakukan selfie dan kemudian mengunggahnya melalui media sosial, sehingga menjadi promosi gratis yang kemudian menarik minat wisatawan lainnya di berbagai negara.

“Era digital sangat membantu dalam mempercepat dan mengembangkan jaringan untuk pasar wisatawan. Sehingga biaya promosi bisa ditekan. Tetapi tim marketing online belum 100% bisa menghendel, belum lagi SDM pengelola belum terlatih secara formal” papar Darmawan yang juga merupakan Sarjana Peternakan lulusan dari Universitas Udayana.

Darmawan menyampaikan bahwa dengan memadukan paket wisata ditingkat desa dengan promosi secara online telah memberi keuntungan langsung pada komunitas masyarakat di tingkat desa. Masyarakat dapat merasakan terlibat langsung dalam pengembangan dan pengelolaan pariwisata desa, serta merasakan manfaat dari pariwisata di desa-nya.

Akademisi dari Fakultas Pariwisata, Universitas Udayana Dr. I Nyoman Sukma Arida merekomendasikan agar pelaku pariwisata di Bali segera melakukan promosi berbasis IT, kalau tidak mau ditelan gelombang disrupsi dahsyat digital informasi. Khusus untuk Pemerintah Provinsi Bali, Sukma menyarakan untuk membuat team Digital Tourism Creative Bali  Province yang mewadahi dan menjadi ekosistem para anak muda yang memiliki talenta IT sehingga pariwisata Bali tetap bertahan dalam puncak promosi dalam berbagai search engine. Termasuk melatih pengelola destinasi wisata dalam memanfaatkan IT.

“Kebijakan menyediakan jaringan free wifi di destinasi-destinasi termasuk di desa wisata, melatih para pengelola destinasi agar mempunyai kapasitas pengelolaan IT yang memadai termasuk menangani respon pengunjung via online. Tantangannya ialah apakah para pengelola destinasi sudah menyediakan informasi nya dalam platform digital, termasuk menyediakan human resourcess” papar Sukma yang juga merupakan penulis buku “Dinamika Ekowisata Tri Ning Tri di Bali”.


Sukma mengungkapkan di era sekarang, eranya digital wisatawan terutama milenial turist biasanya bergerak sendiri mencari destinasi yg diinginkan berdasarkan referensi digitalnya. Selain itu, milenial tourist merupakan  tipikal pembosan sehingga produk wisata yang disediakan harus beragam. “Bali diuntungkan dengan jarak antar destinasi yg berdekatan. Kelemahannya dari sisi keragaman destinasi yang kesannya 'itu itu saja'. Tour guide di Bali pada umumnya malas menawarkan produk-produk wisata alternatif karena berbagai alasan, salah satunya terkait soal urusan komisi atau tiping” kata Sukma.

Sebelumnya Nyoman Sukma Arida bersama Nina Ester Parhusip sempat melakukan penelitian terkait karakteristik wisatawan milenial yang berkunjung ke Bali. Hasil Penelitian tersebut dipublikasikan dalam sebuah artikel berjudul “Wisatawan Milenial di Bali (Karakteristik, Motivasi dan Makna Berwisata)” yang dipublikasikan dalam Jurnal Destinasi Wisata, Volume 3, Nomor 2 tahun 2018. Dalam artikel ilmiah tersebut, Sukma Arida dan Ester menuliskan bahwa sebanyak 73% wisatawann milenial di Bali memilih akan mengalokasikan pendapatannya untuk sebuah pengalaman atau travelling dibandingkan dengan kepemilikan materialistic dan menunjukkan perjalanan wisata adalah prioritas dalam pengalokasian pendapatannya.

Wisatawan milenial yang berkunjung ke Bali, sebanyak 49% merupakan allocentric  atau menyukai hal-hal baru, unik, berpetualang, mencari tempat baru dan tidak banyak diketahui orang lain serta memilih untuk menggunakan seadanya yang ada pada masyarakat lokal. Tercatat 41% merupakan mid-centric dan 10% adalah psychocentric yaitu wisatawan yang lebih menyukai tempat-tempat populer.

Motivasi wisatawan mileniali melakukan perjalanan wisata ke Bali di dominasi oleh komponen faktor pendorong novelty dan knowledge seeking, sedangkan untuk faktor penarik di dominasi oleh komponen safety, cleanliness dan variety of attraction. Sedangkan untuk wisatawan milenial yang berkunjung ke  Bali  memiliki makna berwisata untuk mencari pencarian jati diri dan pemberdayaan diri atau pengembangan diri sendiri.

Sukma Arida dan Ester juga menuliskan bahwa karakteristik wisatawan milenial berdasarkan biaya perjalanan secara umum  rata-rata sebanyak  31% biasanya menghabiskan sekitar USD 600-1000. Tercatat 30% wisatawan milenial menghabiskan USD 400-599, 21% mengabiskan sebanyak USD 200-399, 3% memilih menghabiskan kurang dari USD 200, dan sebanyak 5% menghabiskan lebih dari USD 1000. Jika kemudian dilihat dari teman perjalanan, tercatat sebanyak 53% wisatawan milenial yang berkunjung ke Bali melakukan perjalanan bersama teman, 22% bersama keluarga, dan 12% bersama pasangan, 11% solo traveling, dan hanya 2% melakukan perjalanan dengan berkelompok.

Jika kemudian karakteristik wisatawan milenial dilihat berdasarkan pentingnya konektivitas internet maka tercatat 49% wisatawan milenial mengatakan bahwa koneksi internet sangat penting  ketika melakukan perjalanan wisata. Sedangkan 32% memilih cukup penting, 14% memilih penting dan hanya 5% wisatawan milenial memilih tidak penting terhubung ke internet dikarenakan lebih memilih untuk menikmati perjalanan. [bbn/muliarta] 


Rabu, 03 Juli 2019 | 16:20 WITA


TAGS: Memanjakan Wisatawan Milenial Pulau Dewata



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: