Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 Tahun 2019

Ketika ''Odah'' Ujuk Kemampuan Dalam Seni Arja di Ajang PKB

Jumat, 05 Juli 2019 | 20:45 WITA

Ketika ''Odah'' Ujuk Kemampuan Dalam Seni Arja di Ajang PKB

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Para odah atau lanjut usia (lansia) tak mau ketinggalan untuk menunjukkan kemampuan dalam ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019.


Para odah yang sudah harus di rumah ngurus cucu menunjukkan kemampuan dalam seni arja. Itu yang ditunjukkan Sekaha Arja Lansia Sukanya, Banjar Celuk Desa Dalung, Kecamatan Kuta Utara, Badung saat tampil di PKB ke-41.

Arja lansia yang tampil di kalangan Ayodya, Taman Budaya, Denpasar, Jumat siang (5/7) cukup memikat pengunjung Pesta Kesenian Bali (PKB) ke -41 tahun 2019. Arja Lansia yang diperkuat 12 orang pemain yang paling muda  berusia 55 tahun dan yang tua ada yang berusia lebih dari 70 tahun. Selain itu juga didukung oleh 12 orang penabuh. Sekaa Arja Lansia ini mementaskan lakon ‘Sungu Mawungu’.

Lakon yang menceritakan tentang Raja wanita (Limbur) yang sakti dari kerajaan Sunya Merta yang memiliki seorang putri, Diah Anggrek Wulan dan seorang putra yakni Mantri Buduh bernama Raden Jaya Prakosa. Keduanya belum ada pendamping. Mantri Buduh sejak lama menginginkan  Galuh Satyawati sebagai istri. Padahal Galuh Satyawati dari kerajaan Tantra Pura telah diambil sebagai calon istri oleh Mantri Manis dari kerajaan Santi Pala.

Sementara Diah Anggrek Wulan menginginkan suami Putra Santi Pala  dari kerajaan Santi Pala calon suami Galuh Satyawati.  Melalui kesaktiannya Limbur mencoba mewujudkan keinginan putra dan putrinya.

“Awalnya terlihat akan berhasil, tetapi kemudian gagal karena kesaktian benda pusaka berupa Sungu,” cerita Kordinator Sekaha Arja Lansia Sukanya, Banjar Celuk Desa Dalung, Jro Mangku Ketut Gina.

Menurut Ketut Gina tantangan dalam menggarap lakon ini karena semua yang terlibat sudah lansia-lansia semua.

“Seperti yang saya bilang tadi gitu, ngayah, mayah, layah itu tantangan kita, yang nomor dua (mayah)  ini tantangannya,” tutur Ketut Gina.

Tetapi karena prinsip ngayah itu, semua anggota tim ikhlas melakukannya.

“Keikhlasan itu kunci kami berkarya dan bisa seperti ini,” aku Ketut Gina.

Ketut Gina menjelaskan sebenarnya awalnya mereka bukan membuat sekaha arja lansia.


“Semua berawal dari ngebrik. Terus kita buat sekar alit dulu. Kemudian megegitan, geguritan, lanjut meningkat sekar agung. Sudah itu kita bentuk arja duduk atau orang sering sebut  arja taman penasar. Taman Penasar ini laris sekali. Mengapa laris karena kita sifatnya ikhlas semua, tidak pamrih kita yang tua-tua ini tidak ada kepamrih sama sekali itu yang menyebabkan orang merasa senang,” papar Ketut Gina.

Menurut Ketut Gina, mereka pun diundang pentas ke mana-mana sampai di Gunung Salak Bogor, Jakarta, Jawa Timur nggak kehitung berapa kali pentas bahkan sampai ke pulau Lombok.

“Kemudian meningkat. Ide-ide muncul. Kita pun rapat. Dan salah satu keputusnnya adalah membuat arja lansia karena sudah ada bibit-bibitnya,” terang Ketut Gina.

Sementara itu menurut penanggungjawab pementasan arja lansi, I Ketut Merjiwa, kalau ditarik ke belakang. Awal mula berdirinya sanggar mereka sudah ada sejak tahun 2000 an.

“Jadi kita membentuk sanggra ini tahun 2000. Terus seiring perjalanan akhirnya juga mendirikan sanggar Arja lansia ini,” jelas Merijiwa.

Masih menurut Merijiwa, untuk persiapan pementasan ini mereka melakukan latihan selama tiga bulan dengan seminggu bertemunya tiga kali. Merijiwa berharap adanya dukungan dan perhatian dari pemerintah agar dapat untuk selanjutnya melestarikan kebudayaan Bali. [bbn/ananta/mul]


Jumat, 05 Juli 2019 | 20:45 WITA


TAGS: Odah:lansia Arja PKB 2019



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: