FGD Arak Bali (2): Petani Arak Kesulitan Dalam Pemasaran Produk

Jumat, 19 Juli 2019 | 13:00 WITA

FGD Arak Bali (2): Petani Arak Kesulitan Dalam Pemasaran Produk

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. I Nengah Pasek, Petani pembuat arak Karangasem, Banjar Bengkel Desa Antiga Kelod mengaku untuk bahan baku arak sejauh ini tidak menemui kendala, tetapi lebih pada sisi penjualan atau pemasaran. 
 

Untuk itu, pihaknya selaku perwakilan petani pembuat arak di Karangasem meminta dukungan Gubernur Bali, Wayan Koster untuk menepati pernyataan yang dijanjikan sebelumnya kepada media untuk melegalkan arak Bali. Ia mengharapkan arak Bali bisa go internasional. Ia mengeluh selama ini minuman arak tradisional di Karangasem sering ditangkap pihak berwenang tetapi sekarang sudah tidak ada lagi. 
 
"Jika bawa arak karangasem ke Denpasar sering ditangkap di bypass, akibatnya petani arak Karangasem pasti rugi padahal membuat arak itu tidak mudah karena nyawa taruhannya," ujarnya pada Focus Group Discussion (FGD) Arak Bali di Wiswa Sabha, kantor Gubernur Bali, Renon, Denpasar, Kamis (18/7).
 
Kini, lanjutnya, ada aturan Menteri Keuangan yakni bagi masyarakat yang memproduksi arak 25 liter per hari dan tidak diedarkan ke daerah lain itu dibolehkan. Dengan segala aturan tersebut, ia juga mengharapkan kedepan Pemerintah selaku regulator bisa memberi jalan untuk melegalkan arak Bali, sehingga bisa dikonsumsi turis yang datang ke Bali dan juga diekspor. "Itu harapan kita sebagai petani arak Bali," sebutnya. 
 
Nengah Pasek saat ini memproduksi 20 liter arak dari kelapa per hari dan hanya dijual di wilayah Karangasem selain dibeli oleh warga dari luar yang kebetulan mencari produknya. (bbn/timred)


Jumat, 19 Juli 2019 | 13:00 WITA


TAGS: FGD Arak Bali Petani Arak Pemasaran



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: