Posisi Hubungan Seks Bisa Tentukan Jenis Kelamin Anak?

Minggu, 11 Agustus 2019 | 17:30 WITA

Posisi Hubungan Seks Bisa Tentukan Jenis Kelamin Anak?

beritabali.com

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Denpasar. Tanya: "dok, saya baru menikah dan berencana segera punya anak. Saya punya keinginan agar bisa memiliki anak laki-laki. Apa ada cara dan posisi seksual tertentu yang dapat dilakukan untuk mendapatkan anak laki-laki?" (Fajar, Sanur, 24).
 

Jawab: Jenis kelamin seorang anak ditentukan oleh kromosom seks yang ada pada sel sperma dari pihak laki-laki yang membuahi sel telur. Kromosom seks pada sel sperma laki-laki ada dua jenis, yaitu X dan Y. Sementara sel telur hanya memiliki satu jenis kromosom seks yaitu X. Jadi laki-laki yang menentukan akan jadi apa nanti jenis kelamin anaknya. Karena jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang Y, maka akan terbentuk kromosom gabungan XY yang selanjutnya lahir menjadi anak laki-laki. Sedangkan jika jenis kromosom pada sel sperma yang bertemu sel telur adalah yang X, maka akan menjadi XX, atau yang nanti terlahir sebagai anak perempuan. Secara umum, kemungkinan jenis kelamin bayi adalah tetap berkisar 50-50.
 
Keinginan dan upaya untuk dapat menentukan anak yang lahir sesuai dengan keinginan suami-istri sudah lama terjadi, bahkan sejak jaman purbakala. Minum ramuan tertentu, mengkonsumsi makanan tertentu, hingga perilaku-perilaku tertentu sempat dilakukan turun temurun dan memunculkan mitos. 
 
Tentang adanya dugaan bahwa posisi hubungan seksual bisa menentukan jenis kelamin adalah sebuah pernyataan keliru. Mitos yang sering terdengar adalah posisi seks yang dapat menentukan jenis kelamin bayi yang lahir. Masih ada yang percaya jika ingin berhubungan seksual dengan istri dengan memulai “menaiki” istri dari sebelah kanan akan mendapatkan anak laki-laki, sedangkan bila dari sebelah kiri akan mendapatkan anak perempuan. 
 
Tidak ada pengaruh absolut posisi miring atau gaya yang lain saat berhubungan seksual terhadap jenis kelamin anak yang akan dihasilkan. Jadi, posisi hubungan seksual tidaklah menentukan jenis kelamin bayi yang akan dilahirkan. Antara posisi yang konvensional (missionaries), woman on top, hingga doggy style juga tidak lah memiliki pengaruh yang berarti terhadap penentuan jenis kelamin anak. Tetapi memang ada cara atau faktor tertentu yang sering dicoba dan bisa berpengaruh terhadap jenis kelamin anak dalam konteks hubungan seksual. 
 

Sebelumnya dikenal ada teknik mengatur asam basa liang vagina, tetapi itu kegagalannya tinggi. Saat ini ada sebuah cara dengan teknik lebih canggih, tetapi tentu saja tidak bisa dikerjakan di rumah dan harus datang ke ahlinya karena tentu saja ini hanya bisa dilakukan oleh kalangan profesional medis terlatih dan didukung alat-alat yang juga mutakhir. Salah satunya yang populer adalah dengan melakukan separasi atau memilah dan memilih sel sperma X dan Y dengan jalan disaring menggunakan cairan albumin. Metode ini sekarang banyak digunakan untuk proses inseminasi. Lalu bisa juga menggunakan teknik mikro sortir (microsort). Sperma Y atau X disortir atau dipilih sesuai dengan keperluan. Keberhasilan metode ini diklaim paling tinggi, walaupun masih muncul pro-kontra seputar keamanan pewarna yang digunakan.
 
Hal yang perlu diketahui adalah semua metode hanya dapat meningkatkan persentase keberhasilan. Tidak ada yang bisa menjamin 100 persen bahwa nanti yang lahir pasti bayi laki-laki atau bayi perempuan. Tetapi dalam kenyataan yang terjadi secara global, usaha ke arah riset dan pemanfaatannya untuk pemilihan jenis kelamin anak ini sudah tidak lagi menjadi hal menarik di dunia, kalaupun ada hanya di beberapa daerah dan negara saja. Karena sesungguhnya dengan kemajuan pemahaman akan hak asasi manusia dan kesetaraan gender, posisi anak laki-laki dan perempuan di dunia global sudah tidak lagi menyisakan perbedaan yang bermakna. [bbn/dr.oka negara/psk]


Minggu, 11 Agustus 2019 | 17:30 WITA


TAGS: seksologi okanegara bali



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: