Aksi Heroik Ngurah Rai dan Ciung Wanara (1): 18 November 1946 Sukses Serang Tangsi NICA

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 06:00 WITA

Aksi Heroik Ngurah Rai dan Ciung Wanara (1): 18 November 1946 Sukses Serang Tangsi NICA

beritabali.com/ist/wikipedia

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Tabanan. 20 November 1946 dikenal sebagai hari Puputan Margarana. Saat itu Kolonel I Gusti Ngurah Rai dan Pasukan "Berani Mati" Ciung Wanara berperang "Puputan" atau sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia melawan penjajah Belanda dan antek-anteknya. Bagaimana kisah aksi heroik Gusti Ngurah Rai dan Pasukan Ciung Wanara dalam mengusir penjajah Belanda?
 
Perang Puputan Margarana 20 November 1946 tidak terjadi begitu saja. Sebelumnya, pada 18 November 1946, pasukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dibawah komando Kolonel I Gusti Ngurah Rai menyerang Tangsi NICA (Polisi Belanda) yang berada di Kota Tabanan. Penyerangan ke Tangsi NICA Belanda ini berjalan sukses. Semua senjata dan amunisi yang ada di Tangsi berhasil dikuasai dan diambil pasukan Gusti Ngurah Rai.
 
"Sewaktu Tangsi NICA ini diserang, tangsi itu dipimpin oleh Komandan Polisi Belanda yang bernama Wagimin. Wagimin yang awalnya merupakan komandan polisi Belanda, kemudian berbalik haluan memihak para pejuang kemerdekaan yang berada dibawah komando Kolonel I Gusti Ngurah Rai, yang waktu itu menjabat Kepala TKR Divisi Sunda Kecil," jelas Gede Putu Abdiyasa, pemandu dan petugas museum Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana,Tabanan, saat berbincang dengan Beritabali.com belum lama ini.
 
Menurut Abdiyasa, suksesnya serangan ke Tangsi NICA Belanda di Tabanan ini, tak lepas dari peran seorang sosok Srikandi pejuang wanita bernama Lasti. Sebelum penyerangan, Gusti Ngurah Rai menugaskan Lasti untuk mendatangi Komandan Tangsi Nica di Tabanan dan melakukan komunikasi dengan Komandan Tangsi Wagimin.
 
"Belum banyak yang tahu, sukesnya serangan ke Tangsi NICA pada 18 November 1946 di Tabanan berkat peran seorang penghubung wanita bernama Ibu Lasti. Sebelum serangan, Ibu Lasti menghubungi Pak Wagimin dan berusaha menyampaikan agar bagaimana caranya Pak Wagimin mau menyerahkan senjata dan amunisi yang ada di Tangsi NICA Tababan. Pertemuan itu kemudian dilaporkan ke Pak Ngurah Rai. Jadi Pak Wagimin yang komandan Tangsi NICA itu sudah tahu akan diserang. Pak Wagimin mau membantu para pejuang asal disiapkan pasukan penyerbu dari pihak Pak Gusti Ngurah rai," jelas Abdiyasa. [bbn/psk]


Sabtu, 17 Agustus 2019 | 06:00 WITA


TAGS: gusti ngurah rai ciung wanara margarana



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: