Aksi Heroik Ngurah Rai dan Ciung Wanara (5-habis): Pejuang Yang Gugur "Puputan" Dibawa Ke Rumah Masing-Masing

Sabtu, 17 Agustus 2019 | 09:00 WITA

Aksi Heroik Ngurah Rai dan Ciung Wanara (5-habis): Pejuang Yang Gugur "Puputan" Dibawa Ke Rumah Masing-Masing

beritabali.com/ist/net

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Tabanan. Perang "Puputan" Margarana yang berjalan sengit akhirnya berakhir dan menewaskan seluruh atau 96 orang anggota pasukan Ciung Wanara pimpinan Gusti Ngurah Rai. Namun di pihak Belanda jumlah pasukan yang meninggal jauh lebih besar, diperkirakan mencapai 400 orang.
 
Pasca pertempuran, seluruh anggota pasukan Ciung Wanara yang gugur awalnya dibiarkan di lokasi pertempuran. Pihak Belanda hanya mengambil jenasah pasukannya yang meninggal di medan tempur. 
 
"Pejuang yang gugur ditinggalkan di sini (Persawahan Uma kaang) oleh Belanda, hanya pasukan Belanda tewas yang diangkut. Belanda tidak berani mendekati lokasi pertempuran karena takut masih ada pejuang yang hidup. Masyarakat (Desa) Kelaci kemudian dipakai sebagai perisai hidup untuk bisa masuk ke lokasi pertempuran. Waktu masuk ke lokasi itu ditemukan Pak Wagimin yang masih hidup, tapi karena tidak mau membocorkan rahasia pejuang, beliau ditembak dan semuanya (pasukan Ngurah Rai) gugur," jelas Gede Putu Abdiyasa, pemandu dan petugas museum Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana,Tabanan, saat berbincang dengan Beritabali.com belum lama ini.
 
Pasca perang "Puputan" Margarana, jenasah Gusti Ngurah Rai sempat dibawa ke Rumah Sakit Wangaya Denpasar untuk dimandikan dan kemudian dibawa ke Puri Carang Sari, Badung. Sementara anggota pasukan Ciung Wanara lainnya yang gugur diambil dan dibawa pulang oleh pihak keluarga masing-masing.
 
"Jadi di sini (TPB Margarana) Tabanan tidak boleh disebut taman makam pahlawan, tapi Taman Pujaan Bangsa (TPB) Margarana, karena semua jenasah pejuang sudah dibawa pulang ke keluarga masing-masing, termasuk jenasah pak Gusti Ngurah rai," jelas Abdiyasa.
 
Pasukan Ciung Wanara yang gugur, kata Abdiyasa, dibentuk Gusti Ngurah Rai pada 19 November 1946 di Desa Ole Tabanan. Ciung artinya burung beo yang melambangkan kepintaran, dan wanara itu diibaratkan tokoh Hanoman yang berani membela kebenaran.  
 
"Jadi Ciung Wanara itu filosofinya yang mempunyai kepintaran berani membela kebenaran," tutup Abdiyasa. [bbn/psk/habis]


Sabtu, 17 Agustus 2019 | 09:00 WITA


TAGS: gusti ngurah rai ciung wanara margarana



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: