Bantuan Bedah Rumah Bermasalah, Seret Nama Kadis Keuangan Tabanan

Rabu, 21 Agustus 2019 | 08:25 WITA

Bantuan Bedah Rumah Bermasalah, Seret Nama Kadis Keuangan Tabanan

beritabali.com/ist

DOWNLOAD APP BERITABALI.COM   

Beritabali.com, Tabanan. Bantuan bedah rumah BKK Badung ke Tabanan bermasalah. Salah satu warga Made Edy Pranama di Banjar Gulingan, Desa Antosari, Kecamatan Selemadeg Barat terancam gagal mendapatkan bantuan. 
 

Hal ini lantaran namanya tidak keluar sebagai penerima bedah rumah setelah menjadi penerima pengganti. Yang membuat miris Made Edy Pranama telah selesai membangun rumah 100 persen dengan cara berhutang.
 
Awalnya data penerima bedah rumah yang keluar dari Kabupaten Badung atas usulan Kabupaten Tabanan atas nama Dewa Gede Anom dari Banjar Tengah Desa Antosari. Akan tetapi Desa Antosari tidak pernah mengajukan proposal yang bersangkutan untuk menerima antrean bantuan bedah rumah. 
 
Nah, setelah ada verifikasi ke lapangan rumah Dewa Gede Anom ternyata tidak layak mendapatkan bantuan meski masuk dalam data Rumah Tangga Miskin (RTM). Karena kondisinya masih bagus hanya rusak di bagian atap. Akhirnya tim verifikasi menyarankan mengganti dengan penerima yang lain. Atas rapat dengan aparat desa penerima Dewa Gede Anom diganti dengan Made Edy Pranama. 
 
Made Edy Pranama diusulkan sebagai penerima bantuan karena memang masuk sebagai RTM. Disamping itu belum punya rumah karena selama ini tinggal di mes tempatnya bekerja sebagai sopir. Bahkan nama Edy Pramana sudah diajukan mendapat bantuan bedah rumah dari 4 tahun lalu dan masuk antrean pertama.
 
Setelah sah sebagai pengganti dan sudah membuat proposal, sesuai arahan dari Dinas Sosial Edy Pramana dan seluruh penerima dipersilakan mencari hari baik untuk membuat rumah. "Disarankan membangun ini pak Kadis Sosial yang langsung bilang ke kami sebagai penerima saat pertemuan di Wantilan Soka beberapa bulan lalu sebelum finish rumah saya," ujar Edy Pramana saat ditemui di daerah Banjar Penyalin Desa Samsam, Kecamatan Kerambitan. 
 
Hanya saja setelah pembangunan sudah 100 persen justru muncul nama penerima bantuan bedah rumah BKK Badung atas nama Dewa Gede Anom sesuai dengan data sebelum pergantian. Munculnya nama tersebut membuat khawatir dan was-was jika namanya tercoret mendapat bantuan dan dana sebesar Rp 50 juta tidak kunjung cair.
 
Sebab saat ini dia sudah selesai membangun bahkan biaya material dan ongkos tukang masih ngebon. "Nah ini yang disayangkan, kenapa tidak saat pergantian itu bahwa SK tidak bisa dirubah. Sekarang saya sudah membangun begini, tidak bisa sudah ngomong apa," sesalnya. 
 
Menurutnya sesuai dengan hasil penelusuran bahwa Dewa Gede Anom ini dituding memiliki hubungan keluarga dengan Kepala Bakeuda Tabanan Dewa Ayu Sri Budiarti. Sehingga nama Dewa Gede Anom tersebut tidak berubah di list penerima. Padahal Desa tidak pernah mengajukan yang bersangkutan. "Hasil penelusuran saya seperti itu masih ada hubungan keluarga," katanya. 
 
Dengan kondisi itu dia berharap segera mendapatkan solusi. Dan bantuan yang didapat agar berjalan sesuai prosedur. Sebab dia memang layak mendapatkan bantuan karena belum memiliki rumah. Dimana selama ini dia tinggal di mes tempatnya bekerja sebagai sopir masih di daerah Banjar Gulingan. Sedangkan kedua anak dan istrinya tinggal bersama mertua di Kabupaten Badung.
 
"Harapan saya segera mendapat solusi, karena saya sendiri terus ditanya sama rekanan untuk pembayaran material dan ongkos tukang. Dan jika saja kami tidak disarankan membangun duluan kemudian saya tidak dapat bantuan saya ikhlas. Ini saya sudah membangun 100 persen tuntas tinggal memasang listrik saja," bebernya. 
 
Sementara itu mantan Perbekel Antosari I Wayan Widhiarta menerangkan awalnya bantuan bedah rumah BKK Badung sesuai data list yang dibawa dari kabupaten atas nama Dewa Gede Anom. Namun desa tidak pernah mengajukan proposal atas Dewa Gede Anom. Tetapi desa tetap bersyukur tanpa proposal warganya mendapat bantuan bedah rumah. 
 
"Dan setelah diverifikasi Dewa Gede Anom tak layak dapat bantuan karena hanya atapnya yang rusak artinya kalau diajukan bantuan hanya direhab bukan bedah," akunya. 
 
Karena tak layak dibedah desa pun punya prioritas data yang harus diberikan bantuan. Diusulkanlah Made Edy Pramana karena tidak punya rumah selaku pengganti. Dia hanya punya lahan sekitar 3 are saja. "Dari tim verfikasi bisa diganti, pergantian tak hanya Desa Antosari dari 300 penerima ada 90 penerima terjadi pergantian," tegas Widhiarta. 
 
Setelah resmi bahwa bisa diganti dan proposal bantuan telah diajukan ke Dinas Sosial, akhirnya Edy Pramana membangun sesuai dengan arahan dari Dinas Sosial Tabanan. Bahkan pada tahapan 80 persen sempat dicek ke Banjar Gulingan oleh Dinas Sosial disarankan melanjutkan membangun.
 
Setelah rampung 100 persen pada bulan Juli keluarlah SK baru yang mana nama Made Edy Pramana tidak keluar justru tetap yang keluar nama Dewa Gede Anom. "Yang jadi persoalan, andai saja yang bersangkutan tidak membangun duluan, sekarang sudah membangun tidak keluar ini yang jadi repot," tegasnya. 
 
Widiartha pun menduga jika saja tidak ada faktor kecerobohan dari Kabupaten Tabanan dan tidak ada orang yang membekingi Dewa Gede Anom tidak akan seperti ini. Padahal desa tidak pernah mengajukan. "Dari mana datang nama Dewa Gede Anom kok ujung-ujungnya keluar nama Dewa Gede Anom," tanyanya.
 
Dengan kondisi permasalahan tersebut saat ini masih ngambang belum ada solusi tepat. Apalagi SK sudah keluar tidak bisa diganti kembali. "Belum ada solusi, sudah beberapa kali ambil mediasi dengan Edy Pramana diminta sabar. Karena orangnya dikejar tukang, dan toko mengigat biaya pembangunan sampai Rp 50 juta. Kalau Rp 10 juta bis di desa urunan," tegasnya. 
 
Terkait hal tersebut Kepala Dinas Sosial Tabanan I Nyoman Gede Gunawan menyatakan awalnya memang Dewa Gede Anom yang menerima setelah diverifikasi tidak layak. Desa mengusulkan Edy Pramana yang layak sebagai penggannti. Akan tetapi SK kembali muncul Dewa Gede Anom tetapi Dewa Anom ini belum membangun dan belum setor proposal. 
 
"Nah terkait itu solusinya akan berkoordinasi dengan Bapelitbang mungkin tahun ini akan mendapatkan bedah rumah untuk Edy Pramana. Tetapi kalau Pak Dewa ini mau tidak menerima rumah sesuai pendekatan desa, bantuan Jatuh ke Edy Pramana," akunya. 
 

Disinggung kalau masih ngotot Dewa Gede Anom harus menerima bantuan, Gunawan menjawab Edy Pramana akan dibantu melalui APBD. "Artinya akan difasilitasi, tidak dicoret atau gagal," tandasnya. 
 
Terpisah Kepala Bakeuda Dewa Ayu Sri Budiarti dikonfirmasi menjawab bahwa terkait bantuan bedah rumah Dinas Sosial yang mempunyai kewenangan. Di Bakeuda tugasnya hanya penyaluran dana tidak ada kaitanya dengan obyek dan data. "Tugas ibu hanya mendistribusikan uang yang sudah dimohonkan datanya oleh Dinas Sosial sesuai permohonan data sesuai dengan BKK Badung dan SK Dinas sosial," akunya. 
 
Disinggung mengenai ada tudingan bahwa Dewa Gede Anom adalah saudaranya? Budiarti menjawab hal tersebut ngawur. "Ngawur itu astaga, ten nawang ibu sosial takenin ngih (Tidak tahu ibu sosial tanya ya)," katanya sembari telepon langsung ditutup. (bbn/tab/rob)


Rabu, 21 Agustus 2019 | 08:25 WITA


TAGS: Bedah Rumah Tabanan Bermasalah



Berita Terkait :


Berita Lainnya :

Lihat Arsip Berita Lainnya: