Upaya Menetralisir Kekuatan Negatif Dengan Siat Api.
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, KARANGASEM.
Beritabali.com, Karangasem. Siat api atau perang api merupakan sebuah tradisi kuno yang terus berkembang di Desa Pakraman Duda, Selat, Karangasem. Siat api digelar sebagai upaya untuk menetralisir kekuatan negatif yang ada di lingkungan desa. Dengan harapan agar masyarakat desa terhindar dari hal hal yang tidak diinginkan. Selain itu, siat api juga dimaknai sebagi ujian untuk mengendalikan emosi yang terdapat dalam jiwa manusia.
Siat api biasanya digelar menjelang upacara Usaba Dodol pada sasih Kesange, bertepatan dengan Waraspati Tilem (bulan mati) pada Sasih Kaulu. Tradisi siat api dilaksanakan di perbatasan Desa Duda Timur dengan Desa Duda, tepatnya di atas Jembatan Tukad Sang-sang. Suasana menjadi sakral karena tradisi berlangsung pada saat Sandikala atau waktu peralihan dari siang menjadi malam.
Disebut siat api atau perang api karena memang tradisi ini menyerupai perang, hanya saja yang dijadikan sebagai senjata ialah prakpak yang terbuat dari daun kelapa tua diikat dan dibakar. Prakpak inilah dijadikan sebagai senjata oleh para laki-laki perwakilan dari kedua desa untuk mengikuti tradisi perang api. Siat api dilakukan dengan cara memukulkan prakpak berisi nyala api ke tubuh pihak lawan.
Bendesa Adat Duda, I Komang Sujana dalam keteranganya di sela-sela pelaksanaan tardisi siat api pada Kamis (15/2/2018) mengungkapkan bahwa tradisi siat api dengan berbagai ritualnya dimaknai sebagai pembersihan alam semesta serta untuk mengembalikan unsur alam. “Jadi dengan dilaksanakannya ritual dan tradisi ini, sebelum Usaba Dodol kita sudah bersih secara sekala dan niskala,” ungkap Sujana.
Tradisi siat api di Desa Pakraman Duda sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu, namun sempat terhenti akibat erupsi Gunung Agung pada tahun 1963. Kemudian untuk pertama kali pada tahun 2017 lalu kembali dilakukan dan kali ini 2018 merupakan kali kedua tradisi ini dilakukan kembali.[bbn/igs/mul]
Reporter: -