search
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
light_mode dark_mode
Jaksa Tuntut Wanita Penipuan Pinjaman Rp.9 Miliar 5 Bulan Penjara
Selasa, 6 November 2018, 06:47 WITA Follow
image

beritabali.com/ist

IKUTI BERITABALI.COM DI

GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, DENPASAR.

Salah satu pengusaha di wilayah Tuban, Badung bernama Hj. Sumiati yang tidak ditahan selama menjalani persidangan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) dituntut hanya 5 bulan penjara di Pengadilan Negeri Denpasar.

Wanita paruh baya beralamat di Jalan Raya Tuban No. 58 harus didudukan di kursi pesakitan PN Denpasar karena diduga melakukan tindak pidana penipuan. Jaksa Paulus Agus Widaryanto menilai terdakwa bersalah dalam kasus penipuan atas pinjaman uang yang mencapai kerugian hingga Rp 9 miliar.
 
 
"Memohom kepada mejelis hakim yang menangani perkara ini menjatuhkan hukuman pidana  selama 5 bulan kepada terdakwa  Sumiati," demikian tuntutan yang dibacakan jaksa Paulus di muka sidang.
 
Dalam dakwaan sebelumnya kasus yang menjerat terdakwa ini berawal pada saat terdakwa meminjam uang kepada saksi Ni Ketut Suparniti sebesar Rp 1,5 miliar dengan jaminan sertifikat hak milik (SHM) Nomor 369 Desa Tuban seluas 250 M2 atas nama Hj. Munarwah. Namun setelah batas waktu pengembalian uang tiba, terdakwa tidak dapat membayar. Nah pada saat itulah terdakwa oleh saksi Putu Hendra Kusuma dikenalkan kepada saksi HM. Tohir.
 
Dimana menurut saksi Hendra saksi Tohir bisa membantu terdakwa untuk menyelesaikan hutang terhadap Ni Ketut Suparniti.
Dalam dakwaan disebut pula pada bulan Maret 2016 mulai menjalin komunikasi dengan saksi Tohir dengan alasan untuk modal usaha dengan jaminan SHM. Saat itu terdakwa juga mengatakan pinjaman akan segara dikembalikan dalam waktu singkat dan menjanjikan keuntungan Rp 1,5 miliar dalam waktu enam bulan. 
 
Tak hanya itu, terdakwa juga sempat membawa korban untuk melihat tanah yang dijaminkan. Korban yang mulai tergiur dengan janji-janji terdakwa akhirnya memberikan pinjaman kepada terdakwa pada tanggal 24 Mei 2016 sebesar Rp 6 miliar yang dipotong Rp 1,5 miliar sebagai keuntungan awal.  Namun dalam jangka waktu yang dijanjikan, terdakwa belum juga mampu mengembalikan hutangnya, sehingga Muhamad Syaiful Anam Tohir meminta agar sertifikat yang dijaminkan dibalik nama atas namanya.
 
Namun antara terdakwa dan korban kembali ada kesepakan baru yang dibuat pada tanggal 24 Oktober 2016. Isi perjanjian baru itu antara lain, terdakwa kembali mendapat pinjaman uang senilai Rp 900 juta, sehingga pinjaman total terdakwa adalah 6,9 miliar. 

Tapi setelah jatuh tempo, terdakwa belum juga mampu mengembalikan hutangnya dengan alasan tanah yang akan dijual belum mendapat pembeli. Terdakwa malah kembali meminjam uang kepada korban sebesar Rp 935 juta dan itu kembali diiyakan oleh korban. Bahwa terdakwa kembali mangkir saat pinjaman harus dibayar. Karena terdakwa tidak mampu membayar, maka dibuatlah akta jual beli.
 
Namun terhadap tanah yang dijaminkan yaitu SHM Nomor 369 Desa Tuban, Kuta Badung, Bali dengan luas 250 M2 atas nama Hj. Munarwah tidak juga diserahkan oleh terdakwa dan bahkan masih ditempati oleh Hj. Munarwah dan saksi Antar Abdulah. 
 
Bahwa akibat perbuatan terdakwa, saksi korban Muhammad Syaiful Anam Tohir mengalami kerugian sebesar Rp 9 miliar. Atas perbuatannya, jaksa menjerat terdakwa dengan dakwaan tunggal yaitu Pasal 378 KUHP.

Reporter: bbn/maw



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami