search
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
radio_button_unchecked
light_mode dark_mode
Pariwisata Jadi Penopang Ekonomi Hadapi Dampak Tarif AS
Sabtu, 5 April 2025, 13:15 WITA Follow
image

beritabali/ist/Pariwisata Jadi Penopang Ekonomi Hadapi Dampak Tarif AS.

IKUTI BERITABALI.COM DI

GOOGLE NEWS

BERITABALI.COM, NASIONAL.

Menteri Pariwisata (Menpar) Widiyanti Putri Wardhana menegaskan bahwa sektor pariwisata dapat menjadi alat pertahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tekanan eksternal akibat kebijakan tarif dagang dari Amerika Serikat (AS).

Hal ini disampaikan menyusul penerapan kebijakan Tarif Timbal Balik oleh Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah produk impor, termasuk dari Indonesia.

Menurut Menpar Widiyanti, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan pariwisata sebagai sumber devisa utama tanpa terpengaruh oleh kebijakan perdagangan internasional.

“Ketika ekspor barang terkena tarif tinggi, kita harus melihat sektor lain yang bisa menjadi penyeimbang. Pariwisata adalah bentuk ekspor jasa yang tidak terganggu oleh kebijakan tarif dagang. Dengan menarik lebih banyak wisatawan mancanegara, kita dapat menjaga stabilitas Rupiah dan cadangan devisa,” ujar Menpar Widiyanti.

Lebih lanjut, Menpar mengajak seluruh pemangku kepentingan di sektor pariwisata untuk menerapkan tiga strategi utama dalam menghadapi dinamika global:

1. Pariwisata Sebagai “Ekspor Jasa” Penyeimbang
Dengan kekayaan alam dan budaya yang dimiliki, Indonesia sangat potensial menjadi tujuan wisata dunia. Namun, saat ini distribusi 13,9 juta wisatawan mancanegara masih terfokus di destinasi tertentu.

Kemenpar mendorong pelaku usaha di seluruh daerah, termasuk Bali, untuk memanfaatkan perubahan dinamika global sebagai peluang meningkatkan daya tarik destinasi. Diperlukan kesiapan infrastruktur, tenaga kerja, dan promosi yang terintegrasi agar pariwisata bisa menjadi penopang utama devisa nasional.

2. Optimalisasi UMKM & Ekonomi Lokal
Potensi pariwisata tak hanya ada di kota besar atau destinasi terkenal, tapi juga berawal dari desa. Kemenpar terus mengembangkan desa wisata dan memperkuat ekosistem UMKM lokal agar manfaat ekonomi menyebar lebih merata.

Langkah ini juga menjadi bentuk adaptasi dari dampak negatif pada sektor manufaktur akibat tarif dagang, dengan memperkuat sektor jasa berbasis lokal.

3. Fokus pada “High-Quality Tourism”
Kemenpar juga mengingatkan pentingnya mengembangkan wisata berkualitas, bukan hanya mengejar jumlah kunjungan. Pariwisata dengan pengalaman lebih eksklusif, seperti maritim, kuliner, dan wellness, terbukti lebih tahan terhadap fluktuasi global dan mendatangkan devisa lebih tinggi.

Melalui program “Pariwisata Naik Kelas”, Kemenpar ingin menjadikan Indonesia sebagai destinasi pilihan utama wisatawan kelas atas dunia.

Dengan strategi ini, Menpar Widiyanti optimistis sektor pariwisata tidak hanya akan mampu bertahan dari tekanan eksternal seperti tarif perdagangan, tetapi juga menjadi kekuatan utama dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah, termasuk Bali yang merupakan ikon pariwisata Indonesia.

Editor: Redaksi

Reporter: bbn/rls



Simak berita terkini dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Ikuti saluran Beritabali.com di WhatsApp Channel untuk informasi terbaru seputar Bali.
Ikuti kami