Opini

Jelang Pemilukada, Mari Cerdas Maknai Konten Politik

 Jumat, 29 Maret 2024, 11:34 WITA

beritabali/ist/Jelang Pemilukada, Mari Cerdas Maknai Konten Politik.

IKUTI BERITABALI.COM LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Beritabali.com, Denpasar. 

Satu hal paling signifikan dari kampanye pemilu kemarin yang dapat dijadikan pelajaran ke depan adalah, hadirnya konten-konten di media sosial yang terselubung untuk mendukung satu pasangan tertentu. 

Konten ini tersebar oleh beragam akun, baik oleh akun organik maupun akun “polesan” ini penuh dengan kemeriahan dan keriuhan. Penggunaan visual yang menarik, audio yang mudah diterima membuat para netizen dengan tidak sadar menerima dan terterpa imaji-imaji aktor politik yang menyebarkan pesan-pesan politik tersebut. 

Isi konten ini membawa positif dalam arti dia memberikan warna baru dan penuh kemeriahan di media sosial, namun juga tak hanya kemeriahan yang disuguhkan namun kekhawatiran.

Menggunakan pendekatan kampanye soft selling, mereka dengan cerdasnya menggunakan cara-cara yang menarik simpati netizen. Netizen pun dengan tidak sadar mulai terbiasa dengan politik yang penuh hiburan ini. Terlebih pemilih yang didominasi oleh anak muda generasi millennial dan generasi z ini membuat tayangan-tayangan konten ini mudah diterima dan disukai oleh mereka. 

Imaji anak muda akan politik adalah formal, serius, dan tidak menarik menjadi berubah seketika. Mereka kemudian terpapar bahwa konten di mana memberikan pandangan baru akan politik, yakni politik itu penuh hiburan, kreatif dan bisa informal. Aktor politik dikemas bukan lagi kaku dengan baju-baju formal, namun bisa menggunakan pakaian sehari-hari bahkan digambarkan layaknya kartun dalam komik-komik.

Tren konten kedua yang muncul adalah konten yang berputar dan berfokus bukan pada si aktor namun pada mereka yang dinilai dapat menggugah popularitas dan isu romantisme. Sebut saja isu romantisme anak dari salah satu pasangan calon dengan salah satu artis, atau komodifikasi sosok yang dinilai ganteng yang mengiringi selalu mengiringi pasangan calon presiden. Dua konten ini kerap kali menjadi viral dan banyak yang memberikan komentar serta menshare kembali konten tersebut. 

Apa yang dilakukan netizen seperti memberi tanda like, memberi komen, lalu membagikan konten tersebut mereka akan dengan tidak sadar menjadi katalisator dan makin mengoptimalisasi isi konten tersebut. 

Memang yang disampaikan bukan misinformasi tetapi memiliki indikasi misleading atau mengarahkan pada kesimpulan yang berbeda dari esensi dasar kampanye. Pada teorinya, kampanye adalah proses komunikasi dari actor politik kepada pemilih dengan pesan-pesan politik untuk meyakinkan pemilih agar memilih sosoknya. 


Halaman :





Tonton Juga :





Hasil Polling Calon Walikota Denpasar 2024

Polling Dimulai per 1 September 2022


Trending