Netanyahu Pernah Janjikan Jalur Aman Warga Rafah, Kini Mau Diratakan
beritabali.com/cnnindonesia.com/Netanyahu Pernah Janjikan Jalur Aman Warga Rafah, Kini Mau Diratakan
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pernah menjanjikan jalur aman di kota Rafah, selatan Gaza, Palestina, namun kini mau diratakan.
Tetapi, Israel menegaskan bahwa mereka akan tetap menyerang kota Rafah meski ada kekhawatiran internasional terhadap nasib warga sipil yang berlindung di sana.
Sebelumnya, Netanyahu sempat memerintahkan militer Israel untuk mengevakuasi warga Palestina di Rafah dan menjanjikan "jalur aman" bagi penduduk sipil jelang agresi militernya.
Kota Rafah kini menjadi satu-satunya area yang menampung jutaan warga utara Palestina imbas agresi brutal Israel sejak 7 Oktober lalu.
Sebagian besar warga Palestina yang terdampak perang antara Israel dengan Hamas mengungsi di wilayah itu. Para pengungsi pun merasa takut dengan rencana serangan oleh militer Israel.
Meskipun begitu, Netanyahu tetap bersikeras untuk melancarkan gempuran tersebut
"Tidak ada tekanan internasional yang akan menghentikan kami untuk mewujudkan semua tujuan perang," ujar Netanyahu dalam rapat kabinet, mengutip AFP, Minggu (17/3).
"Untuk melakukan hal ini, kami juga akan beroperasi di Rafah," tambahnya.
Israel juga memperkuat posisinya dengan dalih menyelesaikan misi dan akan melanjutkan rencananya sampai tuntas.
"Brigade Khan Younis dari organisasi Hamas dibubarkan. Kami menyelesaikan misi di sana dan melanjutkan ke Rafah," kata Menteri Pertahanan Israel, Yoax Gallant melansir Al Jazeera.
"Kami akan melanjutkan sampai akhir, tidak ada jalan lain," tambahnya.
Namun, tindakan Israel yang kini berencana menyerang kota Rafah dikecam dari berbagai lapisan komunitas internasional.
Kepala Organisasi Kesehatan Dunia PBB Tedros Adhanom Ghebreyesus pernah mendesak Israel dalam nama "kemanusiaan" untuk menindaklanjuti agresi Israel ke Rafah. Ia menambahkan bahwa "bencana kemanusiaan ini tidak boleh dibiarkan semakin parah".
Amerika Serikat yang juga sekutu Israel pun menolak untuk mendukung operasi Rafah tanpa "rencana yang kredibel, dapat dicapai, dan dapat dieksekusi" demi melindungi warga sipil.
Kanselir Jerman Olaf Scholz juga memperingatkan Netanyahu soal "konsekuensi perang yang kian mahal" pada Minggu (17/3).
Scholz bahkan menganalogikan perdamaian dengan tembok dan parit. Menurutnya, keamanan berkelanjutan tak akan datang dari "tembok yang lebih tinggi dan parit yang lebih dalam".
Hingga kini, belum ada gencatan senjata dalam pertempuran tersebut. Menurut Kementerian Kesehatan di Rafah mengatakan pada hari Minggu bahwa terdapat sedikitnya 92 orang tewas dalam dua jam terakhir.
Korban tewas termasuk 12 anggota keluarga yang rumahnya dihantam di Deir al-Balah, Gaza tengah.
Perbatasan Rafah memang kini menjadi pintu keluar bagi warga yang akan dievakuasi dari Gaza karena agresi brutal Israel.
Pasalnya, sampai saat ini Israel masih gencar melaksanakan agresi dan memblokade beberapa jalan ke luar kota. Hal ini membuat warga yang tinggal di kota Rafah merasa terisolasi oleh Israel.
Termasuk dalam aspek bantuan kemanusiaan yang seringkali dihadang oleh militer Israel untuk dapat masuk ke Rafah yang mereka janjikan sebagai "jalur aman" bagi penduduk Palestina.(sumber: cnnindonesia.com)
Editor: Redaksi
Reporter: bbn/net