Gegara Ini, Jerman Terancam Kerusuhan Besar-Besaran
GOOGLE NEWS
BERITABALI.COM, DUNIA.
Jerman terancam gelombang protes dalam jumlah besar. Ini disebabkan karena kenaikan harga makanan dan energi.
Diperkirakan, ekonomi Jerman juga akan mengalami kemunduran pada 2023 hingga 2024 karena pasokan energi tidak akan mampu memenuhi permintaan yang meningkat, terutama di musim dingin.
Harga gas di Jerman meningkat hampir empat kali lipat tahun ini, terutama karena aliran menyusut dari Rusia, pemasok utama benua itu.
Untuk itu, Jerman pun menolak seruan Uni Eropa untuk memboikot impor gas Rusia sebagai sanksi atas serangan militer Rusia ke Ukraina. Namun, raksasa gas Rusia, Gazprom di Jerman secara tidak terduga menarik diri dari negara ekonomi terbesar di Eropa tersebut.
Di Eropa, harga energi saat ini terus melonjak dan risiko geopolitik akan menambah penderitaan warga setempat untuk merogoh kocek lebih mahal.
Kondisi ini mendorong para pejabat di seluruh Jerman mengambil beberapa tindakan pencegahan, mulai dari membatasi suhu pemanasan maksimum di gedung-gedung publik hingga menciptakan "ruang pemanasan" untuk membantu mereka yang berjuang membayar tagihan pemanas mereka.
Baca juga:
80 Ribu Turis Terjebak di Pulau Hainan China
Menteri Dalam Negeri Saxony, Armin Schuster, juga mengatakan kepada ARD bahwa kementeriannya sedang mempersiapkan "berbagai skenario".
Dia menambahkan bahwa beberapa "kelompok, aktivis atau partai" mungkin berusaha "mengeksploitasi" situasi saat ini untuk tujuan sempit mereka sendiri.
Menurutnya, beberapa dari mereka yang "memobilisasi dan menghasut" orang telah menarik perhatian kementeriannya. Menurut media, Menteri Ekonomi Jerman Robert Habeck juga menghadapi kritik selama tur musim panasnya di seluruh Jerman dan pidatonya di kota Bayreuth di Bavaria "sangat terganggu" pekan lalu.
Para pengunjuk rasa, yang melakukan demonstrasi selama turnya dilaporkan menyerukan peluncuran pipa gas Nord Stream 2 untuk mengurangi krisis energi.(sumber: cnbcindonesia.com)
Editor: Juniar
Reporter: bbn/net